From juri@vms.macc.wisc.edu Mon Mar  1 11:49:47 1993
Return-Path: 
Received: from wigate.nic.wisc.edu by tesla.ece.wisc.edu (4.1/25)
	id AA15537; Mon, 1 Mar 93 11:49:46 CST
Received: from Expander by wigate.nic.wisc.edu; Mon, 01 Mar 93 11:40 CST
Received: from 192.65.137.2 by wigate.nic.wisc.edu; Mon, 01 Mar 93 11:39 CST
Received: from sonyusa.Sony.COM!spectrx by Sony.COM (5.65+/1.34) id AA10441;
          Mon, 1 Mar 93 09:28:24 -0800
Received: by sonyusa.Sony.COM (4.0/SMI-4.0) id AA17697;
          Mon, 1 Mar 93 09:26:42 PST
Received: from spectrx.UUCP by szebra.Saigon.COM (4.1/SVR4.i386-1.02)
          id AA11956; Sun, 28 Feb 93 23:54:01 PST
Received: by spectrx.saigon.com (1.65/waf) via UUCP;
          Sun, 28 Feb 93 23:00:56 PST for fica-net@macc.wisc.edu
Message-Id: 
Date: Sun, 28 Feb 93 22:59:24 PST
From: (Amir Torpedo) 
Sender: juri@vms.macc.wisc.edu
Subject: Beriman dan Bersaksi (1 of 2)
To: fica-net@macc.wisc.edu
Expansion-Of: fica-net@wigate.nic.wisc.edu
Comments: Flatulence :=Funny
Organization: SPECTROX SYSTEMS (408)252-1005 Silicon Valley, Ca
Status: RO

                                    
 
                          BERIMAN DAN BERSAKSI
 
 
Yohanes 4:7-42:
 
     Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air.  Kata
Yesus kepadanya: "Berilah Aku minum."  Sebab murid-muridNya telah pergi
ke kota membeli makanan.  Maka kata perempuan Samaria itu kepadaNya:
"Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?"
(Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.)  Jawab Yesus
kepadanya: "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia
yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta
kepadaNya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup."  Kata perempuan
itu kepadaNya: "Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam;
dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu?  Adakah Engkau lebih besar
dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang
telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?"
Jawab Yesus kepadanya: "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi,
tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan
haus untuk selama-lamanya.  Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya,
akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar
sampai kepada hidup yang kekal."  Kata perempuan itu kepadaNya: "Tuhan,
berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi
ke sini untuk menimba air."  Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, panggillah
suamimu dan datang ke sini."  Kata perempuan itu: "Aku tidak mempunyai
suami."  Kata Yesus kepadanya: "Tepat katamu, bahwa engkau tidak
mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada
sekarang padamu, bukanlah suamimu.  Dalam hal ini engkau berkata benar."
Kata perempuan itu kepadaNya: "Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau
seorang nabi.  Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi
kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah."  Kata Yesus
kepadanya: "Percayalah kepadaKu, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa
kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem.
Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami
kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi.  Tetapi saatnya akan
datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan
menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-
penyembah demikian.  Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus
menyembahNya dalam roh dan kebenaran."  Jawab perempuan itu kepadaNya:
"Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila
ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami."  Kata Yesus
kepadanya: "Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau."
     Pada waktu itu datanglah murid-muridNya dan mereka heran, bahwa Ia
sedang bercakap-cakap dengan seorang perempuan.  Tetapi tidak seorangpun
yang berkata: "Apa yang engkau kehendaki? Atau: Apa yang Engkau
percakapkan dengan dia?"  Maka perempuan itu meninggalkan tempayannya di
situ lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang yang di situ:
"Mari, lihat!  Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala
sesuatu yang telah kuperbuat.  Mungkinkah Dia Kristus itu?"  Maka
merekapun pergi ke luar kota lalu datang kepada Yesus.
     Sementara itu murid-muridNya mengajak Dia, katanya: "Rabi,
makanlah."  Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "PadaKu ada makanan
yang tidak kamu kenal."  Maka murid-murid itu berkata seorang kepada yang
lain: "Adakah orang yang telah membawa sesuatu kepadaNya untuk dimakan?"
Kata Yesus kepada mereka: "MakananKu ialah melakukan kehendak Dia yang
mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaanNya.  Bukankah kamu mengatakan:
Empat bulan lagi tibalah musim menuai?  Tetapi Aku berkata kepadamu:
Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning
dan matang untuk dituai.  Sekarang juga penuai telah menerima upahnya dan
ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur dan penuai
sama-sama bersukacita.  Sebab dalam hal ini benarlah peribahasa: Yang
seorang menabur dan yang lain menuai.  Aku mengutus kamu untuk menuai apa
yang tidak kamu usahakan; orang-orang lain berusaha dan kamu datang
memetik hasil usaha mereka."
     Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya
kepadaNya karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi: "Ia mengatakan
kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat."  Ketika orang-orang
Samaria itu sampai kepada Yesus, mereka meminta kepadaNya, supaya Ia
tinggal pada mereka; dan Iapun tinggal di situ dua hari lamanya.  Dan
lebih banyak lagi orang yang menjadi percaya karena perkataanNya, dan
mereka berkata kepada perempuan itu: "Kami percaya, tetapi bukan lagi
karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan
kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia."
     
     
     Yohanes 4 merupakan salah satu kasus PI (Pengabaran Injil) pribadi
yang menjadi contoh dari jaman ke jaman.  Setiap orang yang rindu membawa
orang lain kepada Tuhan, setiap orang yang mau memberikan kesaksian dan
memberitakan Injil secara pribadi harus kembali kepada Yohanes 4, untuk
menerima dan mengerti akan begitu banyak pengalaman, begitu banyak
pengajaran dan bijaksana yang tersimpan di dalam kasus ini, contoh dari
Kristus bagaimana membawa orang datang kepada Dia.
 
     Dengan cara apakah kita membawa seseorang kepada Kristus, membawa
Injil kepada orang lain dan memperkenalkan kerajaan Allah kepada manusia?
Disini kita melihat Tuhan Yesus tidak meninggalkan pusat dari kesaksian,
yaitu Mesias.  Mesias (Kristus) itulah pusat penginjilan yang sejati.
Penginjilan yang sejati bukan membawa manusia untuk mengenal pengalaman
pribadi saja, bukan membawa manusia kepada satu suasana yang hanya
menimbulkan reaksi emosi saja.  Penginjilan yang sejati akan membawa
manusia mengenal pusat yang menjadi Oknum diatas segala oknum; yaitu
Kristus.  Jikalau Tuhan Yesus sendiri pada saat membawa orang lain datang
kepada Kristus; yaitu Dia sendiri, tidak meninggalkan prinsip-prinsip
yang demikian penting, maka siapakah kita, berani memakai cara-cara lain,
demi melihat secara cepat akan hasil kuantitas yang banyak?  Jikalau kita
tidak memperhatikan kualitas dan prinsip yang diajarkan oleh Alkitab dan
tidak memperhatikan terlebih dahulu akan Kristus, Tuhan, kerajaanNya dan
kebenaranNya, maka segala pertumbuhan secara kuantitas itu adalah
penipuan terhadap diri sendiri.  Kita perlu penginjilan dijalankan dengan
baik dan membawa orang kembali kepada Tuhan dengan prinsip-prinsip yang
berdasarkan Kitab Suci.
     Yohanes 4 memaparkan Yesus yang menjadi contoh dari jaman ke jaman,
bagaimana menginjili orang lain, menimbulkan iman, dan menciptakan
kepercayaan yang sejati di dalam hidup manusia.  Di sini kita melihat
bahwa perempuan Samaria yang menjerumuskan diri ke dalam dosa sex yang
tidak henti-hentinya, yang telah mempunyai lima orang suami dan sekarang
sedang tidur dengan suami orang, akhirnya beriman kepada Yesus, mau
meninggalkan dosa yang lama dan menjadi pengikut Kristus yang beriman.
Ini bukan suatu hal yang sederhana.  Ini adalah suatu penginjilan yang
tuntas.  Penginjilan yang tuntas dan tepat mengakibatkan perubahan hidup
dengan meninggalkan dosa yang lama dan mengakibatkan manusia membenci
dosa dan beriman kepada Yesus Kristus.  Beriman bukan hanya menambah
sesuatu di dalam variasi hidup manusia, bukan saja menjadi seorang yang
dulunya tidak ada hidup gerejani, sekarang ikut kebaktian gereja ramai-
ramai saja.  Beriman adalah suatu hal yang menyangkut dua aspek:
 
1. Meninggalkan dosa dan segala kejahatan yang tidak berkenan kepada
Tuhan.
 
2. Mengambil Kristus sebagai pusat hidup, menerima Dia dan segala jasa
keselamatanNya menjadi milik pribadi.
 
     FORSAKE ALL and take JESUS CHRIST.  Forsake All In Take Him,
disingkat FAITH, iman.  Berapa banyak orang katanya mau mengikut Yesus
tetapi tidak mau meninggalkan dosa, berapa banyak orang dari agama lain
yang katanya tidak mau dosa, tapi tidak juga mau menerima Yesus Kristus.
Iman yang sejati adalah iman yang mau meninggalkan segala dosa dan
kejahatan, dan membenci segala hal yang tidak diperkenankan Tuhan, dan
datang menerima Kristus sebagai milik pribadi.
     Penginjilan yang tuntaslah yang dilakukan oleh Yesus Kristus.
Agama, iman, hidup bersekutu dengan Tuhan tidak seharusnya menjadi suatu
tambahan di dalam hidup kita saja, tetapi merupakan sesuatu hal yang
merubah hidup kita, mengubah intisari dan fondasi kita, mengubah arah dan
tujuan hidup kita masing-masing.
     Yesus mengupas dan memimpin pikiran perempuan itu.  Yesus bukan
menimbulkan emosinya, karena emosinya sudah terlalu banyak.  Yang
dibutuhkan perempuan itu adalah pembukaan pikiran sampai mengerti siapa
Mesias itu.  Di dalam hatinya dia sudah mempunyai konsep tentang Mesias,
dan dia merasa membutuhkan Mesias tetapi dia tidak tahu siapa Mesias.
Saya kira di dalam setiap agama mempunyai suatu bibit, yaitu konsep
mengenai Mesias, tetapi mereka tidak tahu siapa itu Mesias.
     Mesias adalah anak Allah, Mesias adalah Juruselamat dunia, yaitu
Kristus yang diurapi oleh Allah sendiri.  Allah Bapa dengan Allah Roh
Kudus mengurapi Allah Anak.  The Father, Spirit and The Son, Tritunggal.
Allah Oknum Pertama mempergunakan Allah Oknum Ketiga untuk mengurapi
Allah Oknum Kedua, lalu Allah Oknum Kedua dikirim oleh Allah Oknum
Pertama ke dalam dunia, yaitu Kristus, Yesus, dan akhirnya penginjilan
yang dilakukan oleh Yesus Kristus kepada perempuan Samaria itu telah
mengakibatkan dia mengaku bahwa Yesus itu Mesias, Juruselamat.  Puji
Tuhan, di sini kita bukan melihat mujizat, bukan keanehan yang dialami,
tetapi suatu pengertian, kesadaran yang mengakibatkan iman tertanam di
dalam hidupnya.
     Di dalam Injil, kita melihat betapa stabil, lengkap, dan sempurnanya
pengajaran kebenaran yang begitu berlainan dengan gerakan-gerakan
kekristenan yang kita lihat pada jaman ini.
     Setelah kasus ini kita melihat kesembuhan dan mujizat dilakukan pada
bagian terakhir dalam pasal empat ini yang merupakan mujizat kedua yang
dilakukan oleh Tuhan Yesus Kristus yang dicatat dalam Injil Yohanes,
sedangkan mujizat pertama terjadi pada pernikahan di Kana.  Sebelum
menuju ke Kana untuk kedua kalinya, Yesus menyelamatkan perempuan Samaria
ini.
     Terlihat di sini adanya satu kesadaran secara pribadi, sebagai iman
yang tidak dipaksakan.  Kebenaran dan pengertian kebenaran tidak bisa
disalurkan hanya dengan lisan atau tulisan, tetapi perlu suatu kesadaran
pribadi yang terjadi.  Sebagai satu event yang memisahkan manusia dan
hidupnya menjadi dua bagian: sebelum mengerti kebenaran dan sesudah
mengerti kebenaran; Sebelum insyaf akan iman dan kepentingannya serta
sesudah insyaf tentang iman dan kepentingannya di dalam Yesus Kristus.
Pada waktu kesadaran itu muncul di dalam hidupmu, engkau tidak perlu
dipaksa lagi, akan datang kepada Tuhan secara rajin.
     Tidak ada gunanya memaksa anak, itu hanya mengakibatkan mereka lebih
bosan, lebih benci, dan lebih menjauhkan diri dari Kekristenan.  Tetapi
itu tidak berarti bahwa saudara tidak perlu memperhatikan anak saudara.
Kesadaran itu harus menjadi suatu tujuan kita berdoa bagi mereka yang
kita cintai, bukan kita mengerjakan sesuatu, bukan berkhotbah kepada
mereka, kita mengharapkan bukan kata-kata yang membuat mereka kehabisan
akal.  Tetapi suatu saat yang mengakibatkan mereka merasa, "Di sini
pengharapanku!"  Kesadaran ini begitu penting, dan itu memerlukan
pekerjaan dari Roh Kudus.  Secara kebenaran tidak ada perkataan seseorang
yang bisa meyakinkan orang lain di dalam menerima kebenaran sorgawi,
kecuali karena pekerjaan Roh Kudus.
     Perempuan Samaria ini mendapatkan kesadaran dan keinsyafan secara
pribadi.  Setelah mengetahui kebenaran, berbedalah seluruh aspek
hidupnya.  Sekali disadarkan akan kebenaran, maka engkau tidak mungkin
kembali kepada hidup yang lama, satu kali engkau melihat cahaya yang
betul-betul dari sorga, engkau dicerahkan, diberikan iluminasi begitu
jelas, engkau akan menyesal: mengapa begitu lambat baru engkau datang
kepada Tuhan Yesus Kristus.
     Apa itu iman?  Iman kepada siapa?  Bagaimana mendapatkan iman?
Perempuan Samaria ini mengalami suatu pergumulan yang mengakibatkannya
menjadi sadar akan siapa Yesus itu, dan proses itu tidak dia ciptakan
sendiri.  Proses itu diciptakan oleh Tuhan Yesus Kristus melalui kuasa
Roh Kudus yang mengurapi Dia.  Waktu Yesus berbicara dengan dia, secara
bertahap Yesus menggarap proses iman itu.  Dengan menciptakan proses itu
Tuhan Yesus memperhatikan bagaimana pendengarNya bisa sampai datang
kepada iman kepercayaan.  Jika kita perhatikan di sini, maka pada waktu
dia mengatakan, "apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala
sesuatu...", pada waktu perempuan itu melontarkan kalimat ini, ia sudah
mempunyai suatu pengertian bahwa Mesias lebih besar dari Musa, Yakub, dan
nabi-nabi.  Di dalam pasal 4 ini nama Yakub, nama orang Yahudi, dan
istilah nabi disinggung.  Kami menganggap Engkau seperti seorang nabi,
apakah Engkau lebih besar dari Yakub, nenek moyang kami yang telah
memberikan perigi ini kepada kami turun temurun sampai zaman kami, apakah
Engkau lebih besar dari Yakub?  Engkau seperti seorang nabi.
     Yesus berkata, "Keselamatan datang dari orang Yahudi."  Tetapi pada
waktu kalimat terakhir perempuan itu berkata kepada Yesus Kristus, "Kami
tahu, bahwa jikalau Mesias datang, Dia akan mengajarkan tentang segala
hal."  Berarti di dalam konsep agamanya, dia tahu meskipun belum
mendapatkannya, bahwa ada Mesias yang lebih besar dari Musa, Yakub,
Abraham dan segala nabi.  Berarti Dia adalah ketotalan kebenaran -- THE
TOTALITY OF THE TRUTH.  Mesias adalah ketotalan kebenaran yang beroknum.
THE TOTALITY OF THE TRUTH AS A PERSON -- totalitas dari kebenaran yang
berbentuk oknum.  Ini adalah suatu kepercayaan yang luar biasa.  Dia
percaya ada Mesias, dan Mesias itu akan memberikan pengajaran mengenai
segala sesuatu.  Di dalam dunia ini banyak orang hanya menerima kebenaran
atau mengerti sebagian kebenaran dengan mencomot kepingan-kepingan dari
sudut yang begitu kecil dan terbatas.  Tetapi perempuan itu mengatakan,
"Meskipun kami hidup di dalam dunia ini, mengetahui ini, mengetahui itu,
tetapi pada suatu hari Mesias akan datang, dan Dia akan memberikan segala
sesuatu, mengajarnya kepada kami."  Seorang yang moralnya rendah
mempunyai konsep-konsep agama yang kadang-kadang tidak rendah.  Jangan
menghina mereka yang menjadi pelacur, yang miskin, yang mempunyai
pengalaman sangat sedikit, atau mereka yang dari lapisan atau kedudukan
yang dianggap sangat rendah di masyarakat.  Kadang-kadang pada waktu
mereka mengatakan dan mencetuskan sesuatu, mereka bisa menggemparkan bumi
dan mengagumkan orang banyak.
     Kira-kira 20 tahun yang lalu, ada anak kecil yang berumur 12 tahun
bertanya kepada saya dengan kalimat-kalimat yang mengagetkan saya!  "Pak,
boleh saya bertanya?"  Saya bilang, "Ini sudah tanya, kalau
begitu tanya lagi ya?"  Dia tanya, "Yesus menanggung dosa kita, betul
tidak?"  "Betul!"  "Bukan saja jaman kita, jaman lalu, jaman yang akan
datang, banyak orang dalam bahasa berbeda, suku berbeda, negara berbeda?"
"Ya!"  "Kalau begitu, banyak dosa ditangani oleh Dia sendiri?"  "Ya!"
"Kalau begitu Dia penuh dengan dosa di atas diriNya?"  "Ya!"  "Dia penuh
dosa di atas diriNya ...  Jikalau Dia sudah menanggung dosa, sluruh
badanNya penuh dengan dosa, kok Yesus bisa masuk sorga?"  Wah saya pikir
hebat ya, anak umur 12 sudah menanya pertanyaan-pertanyaan yang belum
pernah saya dengar dari orang-orang dewasa, ini anak nanti bisa jadi
theolog.
     Demikian juga pada waktu saya memikirkan secara mendalam tentang
perempuan Samaria ini, saya kagum, dia mempunyai satu konsep yang lebih
 


--
torpedo@spectrx.saigon.com (Amir Torpedo)
SPECTROX SYSTEMS +1.408.252.1005  Silicon Valley, Ca


From juri@vms.macc.wisc.edu Mon Mar  1 11:54:35 1993
Return-Path: 
Received: from wigate.nic.wisc.edu by tesla.ece.wisc.edu (4.1/25)
	id AA15603; Mon, 1 Mar 93 11:54:33 CST
Received: from Expander by wigate.nic.wisc.edu; Mon, 01 Mar 93 11:40 CST
Received: from 192.65.137.2 by wigate.nic.wisc.edu; Mon, 01 Mar 93 11:39 CST
Received: from sonyusa.Sony.COM!spectrx by Sony.COM (5.65+/1.34) id AA10443;
          Mon, 1 Mar 93 09:28:28 -0800
Received: by sonyusa.Sony.COM (4.0/SMI-4.0) id AA17753;
          Mon, 1 Mar 93 09:27:09 PST
Received: from spectrx.UUCP by szebra.Saigon.COM (4.1/SVR4.i386-1.02)
          id AA11964; Sun, 28 Feb 93 23:54:03 PST
Received: by spectrx.saigon.com (1.65/waf) via UUCP;
          Sun, 28 Feb 93 23:02:51 PST for fica-net@macc.wisc.edu
Message-Id: 
Date: Sun, 28 Feb 93 23:01:34 PST
From: (Amir Torpedo) 
Sender: juri@vms.macc.wisc.edu
Subject: Beriman dan Bersaksi (2 of 2)
To: fica-net@macc.wisc.edu
Expansion-Of: fica-net@wigate.nic.wisc.edu
Comments: Flatulence :=Funny
Organization: SPECTROX SYSTEMS (408)252-1005 Silicon Valley, Ca
Status: RO


besar dari pendeta-pendeta sekarang.  Pendeta-pendeta yang liberal, yang
tidak beriman, hanya menganggap Tuhan Yesus sebagai Guru yang baik, yang
memberi semacam pengajaran yang hampir sama dengan Mohammad, Sakyamuni,
atau filsuf yang lain.  Maka perempuan Samaria ini mengatakan, "Ia akan
mengajar segala sesuatu kepada kami."  450 tahun yang lalu John Calvin
mengatakan, "Biarlah pemimpin-pemimpin gereja belajar dari perempuan
Samaria ini, karena dia telah memberikan suatu hal yang mengandung inti
yang penting, yaitu Kristus adalah segala sesuatu."
     Darimana kita mendapatkan otoritas?  Di mana pusat otoritas kita?
THE TOTALITY OF THE TRUTH AS A PERSON, kebenaran secara total di dalam
diri Kristus, kebenaran secara total yang beroknum yaitu Anak Allah,
Kristus.
     "Jikalau Mesias datang, Dia akan membicarakan segala sesuatu kepada
kita.  Siapa kamu?"  Yesus menjawab, "Akulah Mesias!"  Perempuan itu
kaget.  Jika engkau tahu siapa Yesus, engkau pasti menyesali cara engkau
menghadapi Dia.  Engkau pasti menyesal dan merasa malu karena engkau
telah memperlakukan Dia secara tidak beres.  Maka perempuan itu langsung
mengasosiasikan konsep yang ada di dalam dirinya dengan Oknum yang
ditemui olehnya.  Pada waktu dia sekarang bertemu dengan Kristus, dan
Kristus mengatakan, "Akulah Dia!"  Ada pendeta yang mengatakan, "Yesus
tidak pernah mengatakan diriNya Anak Allah, tidak pernah mengumumkan Dia
Mesias."  Ini akibat pengaruh racun dari seorang Jerman yang bernama
Albert Schweitzer, pada permulaan abad XX.  Dia mengatakan, "Yesus tidak
pernah mengaku diriNya Anak Allah."  Ini omong kosong!  Ayat yang baru
kita baca, Yesus mengatakan, "Akulah Dia!  Akulah Mesias!"  Ini keunikan
Kekristenan, karena Tuhan Yesus bukan nabi di antara begitu banyak nabi.
Yesus bukan hanya satu nabi di antara sekian banyak nabi yang diutus oleh
Tuhan seperti apa yang dipercayai oleh agama-agama lain.  Yesus merupakan
yang unik, Dialah Mesias itu sendiri, Dia adalah Anak Allah, dan Dia
adalah Anak Allah yang kekal.
     Pada waktu Dia mengatakan, "Akulah Mesias itu."  Apa yang terjadi?
Perempuan itu langsung menaruh barang-barangnya di pinggir sumur, lalu
lari pergi.  Setelah dia sadar, dia beriman.  Dia tidak lagi mementingkan
hal-hal di sekitarnya, tetapi dia memikirkan, "Hidupku sudah bertemu
dengan Tuhan.  Apa yang harus saya lakukan?"  Kita melihat bahwa beriman
dan bersaksi adalah hal yang tidak bisa dipisahkan.  Banyak orang Kristen
menganggap jika sudah lama menjadi orang Kristen baru boleh bersaksi,
tetapi Alkitab berkata kepada kita, ada orang langsung menerima Tuhan dan
bersaksi, meskipun mereka tidak layak, tidak berpengalaman, belum belajar
theologi, dan belum tahu banyak, tetapi mereka telah mempunyai satu titik
fokus yang benar, yaitu memegang Kristus sebagai pusat iman.  Jadi
meskipun pengalaman orang-orang semacam ini masih dangkal, mereka dapat
bersaksi walaupun "masih polos", tetapi mereka mempunyai antusias yang
luar biasa.  Kedua hal ini harus dijadikan seimbang: yang baru menerima
Tuhan bersaksi dengan berapi-api, kita harus menyetujui.  Tetapi mereka
juga harus dididik supaya mereka tidak terlalu cepat jatuh ke dalam jerat
iblis untuk orang yang baru menerima Tuhan.  Sebaliknya orang Kristen
yang sudah berpengalaman tidak boleh menghina orang baru, merintangi,
ataupun menghalangi mereka.  Orang yang baru menjadi orang Kristen jangan
terlalu cepat melayani di dalam pelayanan yang tidak dikontrol dengan
kebenaran, karena kedua hal ini semua berbahaya.  Dan salah satu bahaya
besar di dalam jaman kita adalah, banyak orang yang mau bersaksi, mau
melayani orang lain, tapi tidak mau belajar.  Dan karena kuantitas
melayaninya sudah banyak, mereka menganggap diri mereka sudah
berpengalaman dan dalam diri mereka tidak ada kemajuan rohani lagi,
karena merasa sudah pandai melayani orang lain.  Kita harus berhati-hati.
     Perempuan Samaria ini belum mengubah konsep orang lain terhadap
dirinya.  Orang lain belum tahu jika dia mengalami perubahan dalam
hidupnya.  Semalam mungkin masih tidur dengan suami orang, sekarang
bersaksi, apakah harus menunggu dia bertobat sampai semua kelakuannya
beres baru bersaksi?  Alkitab tidak mengatakan Yesus menyuruh dia
berhenti di sini.  Perempuan itu langsung pergi, waktu dia pergi, dengan
keadaan hidupnya yang tidak layak, dia pergi bersaksi dengan keadaan
suatu kesaksian hidup yang belum dikoreksi oleh orang lain, orang belum
mempunyai konsep baru terhadap dia, tapi dia berteriak.  Sebuah keindahan
di sini, perempuan ini masuk ke dalam kota, dia bertemu dengan banyak
orang.  Masih ingat apa yang kita renungkan?  Dia mengambil air di sumur
pada siang hari, karena dia malu bertemu dengan perempuan-perempuan lain
yang selalu menimba air pada pagi hari, tetapi sekarang dia tidak lagi
mempunyai perasaan malu itu.  Bukan karena dia sekarang sudah menjadi
orang "baik-baik", tetapi karena sekarang dia sudah bertemu dengan
Kristus sebagai pribadi ketotalan kebenaran itu, THE PERSON WHO IS THE
TOTALITY OF THE TRUTH membuat dia pergi bersaksi.  Dia bersaksi bukan
saja karena dia sudah sadar tentang siapa Kristus, dia juga bersaksi
karena dia sadar akan hubungannya dengan Kristus.  Perempuan Samaria ini
sadar akan dua hal:
1. Dia sadar Kristus adalah Mesias.
2. Yesus adalah yang diharapkan oleh  seluruh dunia -- THE  DESIRER
   OF ALL NATIONS.  Istilah ini  muncul  di  dalam  PL  (Perjanjian
   Lama).
     J.S. Bach menulis satu lagu yang merupakan salah satu melodi yang
terindah sepanjang sejarah, "Jesus Joy Of Men Desiring", makna kesukaan
dari apa yang diharapkan, yang dirindukan oleh seluruh umat manusia
adalah Yesus.  Perempuan ini sadar bahwa Yesus adalah hidup, maka dia
pergi, dia tidak perduli orang lain dapat menerima dia atau tidak, tidak
perduli akan posisinya yang memalukan di dalam masyarakat, melupakan
semuanya karena dia tahu bahwa dia sudah menerima sesuatu yang tidak ada
bandingnya.  Dia berkata kepada banyak orang: lihatlah Yesus, bukan
lihatlah saya, jikalau dia mengatakan lihatlah saya, pasti semua orang
langsung meludahi dia.  Lihatlah Yesus, satu-satunya hal yang betul-betul
memberikan kesuksesan bagi kita yang bersaksi.  Jangan meminta orang lain
mengikut kita, tapi bawa mereka kepada Kristus, itulah rahasia kemenangan
kesaksian kita.  Lihatlah Anak Domba Allah, lihatlah Kristus.
     "Mari, lihat, ada seseorang yang sudah menceritakan segala sesuatu
yang saya lakukan kepadaku."  Kalimat "Segala sesuatu akan diajarkan" dan
"Segala sesuatu dari padaku yang dikatakan ini" tiga kali muncul di dalam
bagian ini.  Ini konsep totalitas dari Oknum Kristus.  Segala sesuatu
dari hal hidupku sudah diceritakan oleh Dia, yaitu sesuatu hal yang
mempermalukan, mengapa Dia tahu dan mengapa Dia ceritakan?  Apakah Dia
Mesias, apakah Dia itu Kristus?  Mari kita mensharingkan suatu pengalaman
bersama di mana pada hari engkau menerima Tuhan, di mana engkau tidak
mungkin melarikan diri atau menutup diri.  Itu kuasa Roh Kudus.  Salah
satu kuasa Roh Kudus yang paling besar yaitu kuasa untuk menelanjangi
hidup manusia, menelanjangi seluruh hidup kita sehingga kita tidak bisa
lari, menutup-nutupi, menyangkal, atau membantah lagi.  Setelah Roh Kudus
menelanjangi hidup kita, ada 2 kemungkinan yang akan terjadi:
1. Marah, lalu membenci Roh Kudus.
2. Takluk dan rebah, bertobat di hadapan Dia.
Jikalau penginjilan dijalankan, tetapi tidak terlihat Roh Kudus
menelanjangi hidup seseorang yang mengakibatkan orang itu tidak mungkin
melarikan diri dari Tuhan, berarti penginjilan itu belum tuntas.
     Puji Tuhan, perempuan ini mengakui hidupnya dan segala sesuatu yang
pernah diperbuatnya seperti yang dikatakan oleh Yesus.  Pada waktu dia
bersaksi tentang apa yang dia alami di dalam pertemuannya dengan Yesus
Kristus, orang-orang yang ada di kota Samaria banyak yang keluar dan
datang kepada Yesus, mereka berkumpul dengan Dia.
     Sebelum perempuan itu meninggalkan tempat itu, murid-murid yang
disuruh Yesus membeli roti, membawa roti itu pulang, mereka heran,
"Mengapa Guru berbicara dengan seorang perempuan?  Waktu kami tidak ada,
Dia berbicara dengan perempuan, ini tidak baik!"  Hal ini bisa
menimbulkan satu pikiran, "Mengapa kami disuruh pergi, lalu Dia berbicara
dengan seorang perempuan?"  Tetapi keadaan curiga dan pikiran yang kurang
baik itu tidak diteruskan, mereka berkata kepada Yesus, "Rabi, inilah
roti, inilah makanan", jawab Yesus, "PadaKu ada makanan tersendiri."
Lalu mereka bicara lagi, "Dia sudah dikasih makanan oleh orang lain?"
Mungkin perempuan itu sudah memberi roti kepada Dia.  Apakah Dia sudah
kenyang?"  Yesus tahu apa yang dikatakan di dalam hati mereka, maka Yesus
menjawab, "MakananKu adalah menjalankan kehendak Allah dan menggenapkan
segala rencanaNya."  MENGERJAKAN PEKERJAAN YANG DIBERIKAN KEPADAKU, ini
adalah kalimat yang sangat agung yang boleh kita bandingkan dengan segala
kebudayaan yang teragung di dalam dunia.
     Peribahasa Tionghoa yang kuno mengatakan: rakyat menjadikan makanan
dan perut sebagai dewa mereka.  Manusia biasanya menjadikan perut itu
dewa mereka.  Mereka berjuang, bersusah-payah, menaklukkan diri dan
berkompromi hanya karena mereka butuh uang untuk makan.  Maka mencari
makan menjadi satu hal yang paling utama.  Kita hidup perlu makan, perlu
menyambung hidup sehari-hari, perlu uang.  Karena perlu uang kita
bersusah-payah.  Karena perlu uang dan makan kita berkompromi dan
melupakan kehendak Tuhan, kita melakukan hal-hal yang merintangi akan
hati nurani kita masing-masing.  Rakyat menjadikan makanan dan perut
sebagai dewa mereka, tetapi Kristus di dalam kalimat ini berkata
sebaliknya: "Aku menjadikan kehendak Allah itu makananKu, makananKu bukan
ilahKu.  Betapa besar perbedaan antara kalimat Yesus Kristus sebagai Anak
Allah yang tunggal, yang diutus dengan seluruh kebudayaan manusia yang
tertinggi.
     Yesus berkata, "MakananKu adalah melaksanakan kehendak Bapa."
Seorang yang mempunyai aspirasi atau satu niat perjuangan yang penting,
selalu lupa makan.  Seorang yang terus mengingat makanan pasti tidak ada
niat yang terlalu besar.  Ada seorang pendeta yang setiap minggu pasti
meluangkan satu hari untuk dapat makan seenak mungkin.  Sebagai pendeta,
uangnya tidak terlalu banyak.  Karena tidak cukup, maka dia harus bergaul
dengan orang-orang kaya, yang bisa memberi dia makanan yang enak.
Akhirnya dia harus meminjam uang untuk makan, maka dia meninggalkan
pekerjaan Tuhan.
     Tuhan Yesus Kristus mengatakan, "Aku sudah mempunyai makanan,
makananKu adalah menjalankan kehendak Allah."  Sotren  Kierkegaard
berkata, "Orang yang niatnya suci adalah orang yang mempunyai tujuan yang
pasti dan konsentrasi, sehingga hal-hal yang sebenarnya perlu dianggap
tidak terlalu perlu."  Yesus Kristus mengatakan, "Aku mempunyai makanan
yaitu menjalankan kehendak BapaKu dan menggenapkan pekerjaanNya."
     Setelah orang-orang Samaria datang berkumpul, sadarlah murid-murid
akan apa yang pernah dikerjakan Yesus pada diri perempuan itu.  Dia
bercakap-cakap dengan perempuan bukan karena suka bicara dengan
perempuan, tetapi agar banyak orang datang dan mau mengenal Yesus
Kristus.  Seorang yang mengalami PI pribadi yang sukses, sesudah menerima
Tuhan tidak mungkin hanya disimpan sendiri, dia pasti membawa sekelompok
orang datang kepada Tuhan Yesus Kristus.  Jikalau engkau mengatakan bahwa
dirimu sudah diselamatkan, tetapi engkau belum pernah membawa orang
datang kepada Tuhan Yesus, engkau belum betul-betul menjadi orang yang
beriman dan berbuah.  Tidak berarti setiap orang pasti berbuah banyak,
ada orang yang begitu sulit memberitakan Injil, ada orang yang begitu
gampang memberitakan Injil.  Prinsip ini sudah dibereskan oleh perkataan
Yesus selanjutnya.  Yesus mengatakan, "Lihatlah ladang, bukankah ladang
itu sudah menguning?"  MENGUNING bahasa aslinya adalah menjadi putih
berarti sudah muncul sesuatu yang memberikan tanda waktu menuai sudah
tiba.
     Tuhan menetapkan waktu untuk menabur dan menuai, dan jika engkau
diberi kesempatan untuk menuai janganlah sombong karena hasilmu banyak.
Yesus berkata disini, "Ada yang menabur, ada yang menuai."  Yang menuai
jangan sombong, yang menabur jangan kecewa.  Yang menuai berbagian dalam
kuantitas, yang menabur berbagian di dalam kualitas, yang menabur
memberikan benih yang sedikit tapi baik.  Orang dulu menanam, orang
sekarang menuai bersukacita, orang yang menanam berair mata, orang yang
menuai bersukacita, orang yang menanam berjerih payah, orang yang menuai
bersukaria.  Jangan sombong, jangan menghina orang lain hanya karena
engkau kelihatan lebih banyak kuantitas, tetapi berhati-hatilah segala
sesuatu yang kau harus tanam dengan seleksi kualitas.  Saya pernah
membaca suatu makalah seorang sastrawan yang mengatakan, "Jika aku adalah
seorang kaya, aku tidak akan dapat merasakan berapa manisnya roti yang
dibeli dengan sedikit uang hasil jerih payahku, jika aku adalah orang
kaya, maka aku tidak akan mengetahui dengan sungguh, pacarku mencintai
aku atau mencintai uangku.  Ini benar.
     Waktu berumur 3 tahun saya tidak lagi mempunyai ayah.  Ibu saya
bekerja keras dari pagi sampai malam.  Sebelumnya kami adalah keluarga
yang kaya sekali, tetapi Tuhan memperbolehkan kami dikoyakkan supaya saya
bisa dipersiapkan menjadi hamba Tuhan.  Di dalam hidup yang penuh dengan
pergolakan itu saya tidak pernah menyesal dan tidak pernah mencela Tuhan.
Saya merasa itu merupakan hal yang luar biasa untuk dapat mengalami hidup
bermacam-macam.  Berapa banyak sekarang gereja dan gerakan yang hanya mau
cepat-cepat jadi orang Kristen dengan tidak usah pikul salib, tidak usah
menabur pokoknya cepat-cepat kaya, karena Tuhan itu kaya dan kita beriman
saja, itu merupakan hal yang membahayakan kekristenan yang tidak berakar
menuju ke abad XXI.
     Yesus mengatakan ada yang menabur, ada yang menuai.  Dia bekerja
secara pribadi kepada perempuan Samaria ini, dan perempuan ini, setelah
mengenal siapa Yesus Kristus, dia pergi memberitakannya.  Ia tidak
mengatakan, "Coba lihatlah saya, sekarang saya kaya, lihat saya sudah
diberkati Tuhan mari percaya Tuhan."  Jikalau dia bersaksi semacam ini,
akan mengakibatkan orang percaya Yesus karena hanya mau kekayaan saja.
Tetapi dia memberikan penginjilan dan kesaksian berdasarkan prinsip yang
benar, lihatlah Yesus telah menunjukkan segala dosaku, Dia telah
membongkar hidupku yang saudara tahu bukan?  Saya perempuan Samaria yang
berada di tengah-tengah saudara yang sudah mempunyai nama buruk,
mempunyai banyak suami, tapi sekarang hidup saya sudah diubah.  Ayo, mari
kita lihat Yesus, mari kita datang kepada Dia.  Mereka semua datang
kepada Yesus karena mau melihat bagaimana orang bisa diubah hidupnya.
Menabur dan menuai memerlukan jerih payah dan kesulitan melalui prinsip-
prinsip Alkitab, mengakibatkan suatu kegembiraan yang wajar.  Sesudah
mereka datang, satu kalimat yang penting keluar dari mereka, mereka minta
Yesus untuk tinggal dengan mereka.  Heran, Yesus setuju dan tinggal
selama dua hari di sana.  Sebenarnya Yesus mau pergi ke tempat lain,
tetapi Dia rela meluangkan dua hari untuk tinggal bersama mereka, dan
Alkitab mengatakan bahwa pada waktu Yesus berada di Samaria selama dua
hari, Ia berbicara lebih banyak kepada mereka yang konsep agamanya lain,
yang dibenci oleh orang Yahudi yang mengerti PL (Perjanjian Lama) tapi
mempunyai interpretasi sendiri, berlainan dengan cara interpretasi
exegesis di Yerusalem.  Orang-orang Samaria mempunyai pembentukan konsep
agama tersendiri, yang tidak perlu ke Yerusalem, tetapi tetap
mempertahankan kebanggaan suku bangsa mereka.  Yesus bekerja di tengah-
tengah orang semacam ini, dan mengakibatkan suatu hal yang indah sekali.
Yohanes 4:41-42, apakah mereka datang karena kuasa yang dipamerkanNya,
karena suatu exposisi kebolehanNya, dan tidak karena perkataanNya?  Nya
di sini memakai huruf besar, berarti perkataan Yesus Kristus.  Ayat 42,
orang-orang Samaria telah mengambil suatu kesimpulan yang begitu hebat
dan penting, mereka datang kepada perempuan itu dan berkata, "Kami
percaya bukan karena perkataanmu, memang pertama perkataanmu membuat kami
mencari Dia, perkataanmu mendorong kami datang kepada Yesus, kesaksianmu
memang menjadi satu introduksi, sehingga kami tertarik, tetapi jangan
lupa, bukan karena perkataanmu kami percaya kepada Dia, tapi kami sendiri
sudah mendengar Dia dan menerima perkataanNya, dan dari perkataan Dia
sendiri kami beriman."  Satu prinsip yang penting, satu kesimpulan yang
sukses telah diambil di sini, orang-orang Samaria mempunyai iman yang
sejati, karena mereka datang kepada Yesus Kristus, dan karena mereka
menerima perkataan Yesus sendiri.
 


--
torpedo@spectrx.saigon.com (Amir Torpedo)
SPECTROX SYSTEMS +1.408.252.1005  Silicon Valley, Ca


From juri@vms.macc.wisc.edu Sat Mar 13 02:34:55 1993
Return-Path: 
Received: from wigate.nic.wisc.edu by tesla.ece.wisc.edu (4.1/25)
	id AA03440; Sat, 13 Mar 93 02:34:54 CST
Received: from Expander by wigate.nic.wisc.edu; Sat, 13 Mar 93 02:31 CST
Received: from 129.57.32.102 by wigate.nic.wisc.edu; Sat, 13 Mar 93 02:30 CST
Received: from cebaf.gov by cebaf.gov (PMDF #2693 )
          id <01GVQU1NWNXS934RDA@cebaf.gov>; Sat, 13 Mar 1993 03:30:11 EDT
Message-Id: <01GVQU1NWXLE934RDA@cebaf.gov>
Date: 13 Mar 1993 03:30:11 -0400 (EDT)
From: SURYA@cebaf.gov
Sender: juri@vms.macc.wisc.edu
Subject: Khotbah S.Tong (1. Hari sabat)(1/2)
To: fica-net@macc.wisc.edu
Expansion-Of: fica-net@wigate.nic.wisc.edu
X-Vms-To: IN%"fica-net@macc.wisc.edu"
Mime-Version: 1.0
Content-Transfer-Encoding: 7BIT
Status: R

Teman-teman yang baik, ini ada ringkasan khotbah Stephen Tong, isinya cukup
baik dan membangun. Anggap saja ini sebagai Stephen Tong kepada rekan-rekan
di fica-net.
Ini memang agak panjang, kalau teman-teman sedang sibuk silahkan dilewatin
dulu atau di 'print out' saja. Jangan didelete begitu saja... sayang...
salam
yohanes


PS: Seri khotbah ini akan saya berikan subject: Khotbah S.Tong (1. '....')

                    YESUS: TUHAN DARI HARI SABAT
                                  
                                  
                        Pdt. Dr. Stephen Tong
                                  
                                  
 
Yohanes 5:15-18
 
     Orang itu keluar, lalu menceriterakan kepada orang-orang Yahudi,
bahwa Yesuslah yang telah menyembuhkan dia.  Dan karena itu
orang-orang Yahudi berusaha menganiaya Yesus, karena Ia melakukan
hal-hal itu pada hari Sabat.  Tetapi Ia berkata kepada mereka:
"BapaKu bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga."  Sebab
itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuhNya, bukan
saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia
mengatakan bahwa Allah adalah BapaNya sendiri dan dengan demikian
menyamakan diriNya dengan Allah.
 
 
 
     Mungkin kita ingat cerita Tuhan Yesus menyembuhkan orang yang sudah
38 tahun menderita sakit, kita melihat bahwa Tuhan Yesus di
dalam kedaulatanNya memilih untuk menyembuhkan satu orang -- di
antara begitu banyak orang sakit.  Setelah 38 tahun menderita, sudah
kehilangan gairah hidup dan hampir kehilangan harapan untuk
disembuhkan, baru Tuhan Yesus mengunjungi dan menyembuhkannya.
Inipun menyatakan akan kedaulatan Allah dalam menentukan waktu
penyembuhan.
 
     Peristiwa ini memperhadapkan orang Yahudi dengan sebuah fakta
mujizat bahwa seorang lumpuh dapat berjalan.  Tetapi fakta ini mereka
lihat dengan berdasarkan persepsi selektif (selective perception).
Istilah ini dipakai dalam telekomunikasi, yang berarti suatu
subyektifitas, yang ada dalam diri seseorang, sehingga orang itu
tidak mungkin lagi melihat fakta yang ada.  Orang Yahudi tidak
menjadi kagum pada fakta besar, mujizat penyembuhan ini.  Karena
mereka sudah terikat pada persepsi selektif yaitu "Ini adalah hari
Sabat dan tidak boleh ada orang yang melanggar peraturan dari hari
Sabat.  Yang penting adalah peraturan agama.  Yang melanggar akan
dijatuhi hukuman."  Buta terhadap mujizat yang besar, sehingga tidak
memiliki interpretasi yang benar bahwa itu adalah suatu keajaiban
yang belum pernah terjadi.  Seperti juga pada peristiwa Lazarus
dibangkitkan (Yohanes 11:1-44).  Seharusnya sejak itu mereka
bersembah sujud kepada Tuhan Yesus.  Tetapi yang terjadi malah mereka
berencana untuk membunuh Tuhan Yesus.
 
     Ini merupakan kerusakan agama.  Jika agama tidak membawa manusia
kepada Tuhan, maka agama menjadi perusak manusia yang paling hebat.
Tuhan Yesus bukan dibunuh oleh orang atheis.  Tuhan Yesus dibawa ke
pengadilan bukan oleh orang yang melawan agama, melainkan oleh para
pemimpin agama.  Agama yang tidak membawa manusia kepada Tuhan akan
menjadi daya penghancur peta dan teladan Tuhan dalam diri manusia.
 
     Di mata orang Yahudi tidak penting orang sakit disembuhkan, yang
penting yang telah melanggar hari Sabat harus dihukum.
 
     Tuhan Yesus tidak menonjolkan diri.  Ia tidak memperkenalkan
diri waktu menyembuhkan.  Setelah bertemu di Bait Allah baru Tuhan
Yesus menyatakan diri.  Tuhan Yesus mau memaparkan fakta itu dulu,
baru interpretasi mengikutinya.  Ini merupakan prinsip yang penting.
Kadang dalam hidup kita ini lebih banyak bicara dulu tetapi tidak ada
fakta.  Kadang kita menyelubungi dan menutup sedemikian rapat
mengenai diri kita yang sebenarnya.  Sementara di luar kita
menunjukkan teori-teori yang besar.  Tidak demikian dengan Tuhan
Yesus.  Realita yang Tuhan nyatakan adalah suatu kesungguhan yang
tidak bisa dibantah oleh teori.
 
     Orang yang disembuhkan itu ditanya, "Dari mana fakta itu?"  Ia
menjawab, "Dari Yesus!"  Ketika dikabarkan berita mengenai Tuhan
Yesus, orang-orang yang mendengar berkata, "Mari kita bunuh Dia!
Karena Dia sudah melanggar dan meniadakan hari Sabat."
 
     Pada abad ke-19 akhir ada seseorang yang mendirikan sebuah sekte
yang baru yaitu Advent Hari Ketujuh.  Mereka menekankan bahwa hari
Minggu bukan hari Sabat tetapi hari Sabtulah hari Sabat.  Menurut
mereka gereja-gereja lain sudah menyeleweng dan tidak setia kepada
Kitab Suci.
 
     Tuhan Yesus melakukan penyembuhan pada hari Sabat.  Apakah Tuhan
Yesus lupa hari itu hari Sabat, atau Tuhan Yesus begitu tergerak oleh
belas kasihan?  Dalam Alkitab tercatat 10 kali Tuhan Yesus tergerak
hatiNya oleh belas kasihan.  Tuhan Yesus tidak mungkin lupa bahwa
hari itu adalah hari Sabat.  Tuhan Mahatahu.  Kalau begitu apakah
Tuhan Yesus sengaja untuk memberikan provokasi terhadap orang-orang
yang melawanNya?  Kalau begitu bukankah Tuhan Yesus tidak berhati-
hati sehingga menimbulkan satu pertentangan dalam agama?  Bukankah
ini berarti memberikan kesempatan bagi musuh-musuhNya mencari
kesalahan dan menyerangNya?  Atau inikah cara Tuhan Yesus
mempersiapkan diri menuju jalan salib yang sudah disediakan?
 
     Sesudah manusia berdosa maka manusia menganiaya kebenaran.
Perkataan yang benar tidak berarti akan diterima dengan baik oleh
orang lain.  Justru orang yang mengatakan yang benar akan ditekan dan
mendapat lebih banyak musuh.  Alkitab mencatat hal ini dalam diri
Anak Allah Yang Tunggal.  Tuhan Yesus mengerti bahwa Dia adalah Anak
Allah dan tidaklah mungkin memberitakan kebenaran dengan menerima
sambutan meriah.  Tidak mungkin memberitakan Injil sambil
menghindarkan diri dari salib.
 
     Walau beresiko demikian, Tuhan Yesus mengerti bahwa ini adalah
suatu keharusan.  Maka Ia mengeluarkan perkataan dan pengajaran yang
mendatangkan tantangan berat.  Tuhan Yesus tetap dan harus melakukan
penyembuhan pada hari Sabat.  Tuhan Yesus menyiapkan diri menuju
salib bukan dimulai pada pasal 18-20, tetapi mulai dari pasal 2 waktu
Ia membersihkan Bait Allah.  Sudah tertanam niat membunuh Tuhan Yesus
di antara orang Yahudi.  Pasal 5 Tuhan Yesus secara terbuka
menyatakan bahwa Allah adalah BapaNya, "BapaKu bekerja sampai hari
ini dan Aku juga bekerja sampai hari ini." (ayat 17)  Sejak itulah
orang Yahudi memutuskan untuk membunuh Tuhan Yesus.
 
     Pengakuan Tuhan Yesus sebagai Anak Allah tidak bisa ditolerir
oleh pemimpin Yahudi.  Mereka sudah mengalami suatu proses perjalanan
yang panjang sampai akhirnya tiba pada satu konklusi bahwa Allah
adalah Allah Yang Esa, Allah yang tidak boleh dipersamakan dengan
manusia, Allah yang begitu dihormati dan dimuliakan.  Siapa yang
berani mempersamakan diri dengan Allah?
 
     Di dalam PL kita akan melihat Baal, Asyetora dan Dagon dan dewa-
dewa yang begitu banyak disembah sujud oleh orang Israel.  Sampai
nabi Elia menyatakan mujizat dari sorga, api turun ke mezbah yang
membuktikan bahwa Baal bukan Allah yang sejati (I Raja 18:20-46).
Hanya Yehovah adalah Allah yang sejati.  Elia bersusah payah
mengembalikan seluruh orang Israel kepada ajaran yang benar.  Elia
harus menghadapi 400 orang nabi Baal di gunung Karmel.  Seorang diri
harus mengimbangi seluruh zaman?  Bukan suatu hal yang gampang.
Perlu satu semangat yang luar biasa dan kerelaan untuk mengorbankan
diri sampai mati dalam menggenapi kehendak Allah.
 
     Sampai satu saat Elia berkata, "Tuhan, hanya aku seorang
sendirilah yang masih hidup, sedangkan mereka beratus dan beribu-
ribu.  Hanya aku seorang diri yang setia kepadaMu."  Tuhan menjawab,
"Elia, Aku tahu, Aku mengenal engkau.  Tetapi dengan sesungguhnya Aku
memberitahu, jangan sombong, jangan kira engkau hanya sendiri.
Sebenarnya Aku akan meninggalkan di Israel yakni semua orang yang
tidak sujud menyembah Baal dan yang mulutnya tidak mencium dia."
(I Raja 19:18)  Jangan berpendapat engkau tersendiri.  Mungkin engkau
akan merasa lemah dan inferior; mungkin juga engkau merasa sombong
dan superior.  Inferior dan superior adalah siasat iblis untuk
menjatuhkan manusia yang hendak melayani Tuhan.  Ketika saya menjadi
inferior saya akan kekurangan kekuatan untuk melayani Tuhan.  Tetapi
bila saya menjadi superior maka saya jatuh pada kelemahan yaitu tidak
merasa perlu bersandar kepada Tuhan.  Keduanya adalah racun dan
siasat iblis.
 
     Ketika Elia merasa seorang diri, Tuhan menyatakan masih ada
7.000 orang yang setia.  Puji Tuhan bahwa dalam setiap zaman Tuhan
memilih orang-orang milikNya yang kembali kepada prinsip-prinsip yang
ketat di hadapan Dia.  Setelah kembali dari pembuangan selama 70
tahun di Babel, baru mereka sadar dan kembali kepada monotheisme,
yaitu percaya dan mengenal Allah Yang Maha Esa.  Kesadaran yang
didapat setelah menempuh jalan yang begitu lama dan berat, sampai
mereka harus dibuang dan Bait Allah dibakar.  Setelah pengajaran yang
berat ini baru orang Yahudi sadar bahwa Tuhan Allah tidak boleh
dipermainkan.  Sejak itu mereka mempertahankan monotheisme dengan
ketat.  Tidak lagi sembarangan dalam beribadah kepada Tuhan.
 
     Maka kita bisa mengerti kesulitan mereka ketika mendengar
perkataan Tuhan Yesus.  Bagi mereka Allah Bapa adalah Allah Yang Maha
Esa.  Jika Tuhan Yesus menyebut Allah sebagai Bapa berarti Tuhan
Yesus adalah AnakNya, dan itu berarti mempersamakan diri dengan
Allah.  Allah adalah Allah yang tidak kelihatan, sedangkan Tuhan
Yesus adalah manusia yang kelihatan, berdarah dan daging, bagaimana
berani mempersamakan diri dengan Allah?
 
     Kesalahan agama Yahudi adalah tidak mengerti akan doktrin
Inkarnasi.  Tidak mengerti doktrin Inkarnasi berarti tidak mungkin
mengerti Tuhan Yesus yang berdarah dan daging adalah wujud Yang Maha
Esa di atas bumi.  Jika mereka tidak mengerti doktrin Firman yang
menjadi daging maka mereka tidak mungkin datang kepada Tuhan Yesus
dan mengaku Dia adalah Allah.  Itulah sebabnya Injil Yohanes 1:1
langsung mencetuskan rahasia besar ini yaitu Allah menjadi manusia,
Firman menjadi daging, dari tempat yang tidak terbatas masuk ke dalam
dunia yang terbatas.  Dengan iman manusia dapat melihat siapa Tuhan
Yesus, tanpa iman manusia tidak akan mengerti siapa Tuhan Yesus.
     
     Pada hari Sabatlah Tuhan Yesus menyembuhkan orang itu.  Di
sinilah kita akan melihat hubungan Kristus dengan Sabat.  Ada
beberapa macam Sabat yang tercatat di dalam Alkitab.
 
     Pertama, Sabat Tuhan Allah THE SABBATH OF GOD.  Yaitu hari Sabat
yang tidak ada hubungannya dengan manusia, hanya dimiliki Tuhan Allah
sendiri.  Itulah hari ketujuh setelah Tuhan menyelesaikan pekerjaan
menciptakan segala sesuatu selama enam hari.  Alkitab mengatakan Dia
berhenti dari pekerjaanNya dan menetapkan hari ketujuh sebagai hari
yang suci dan Ia menguduskan hari yang suci itu, lalu berhenti dari
pekerjaan penciptaan.  Apakah ini berarti Allah tidak lagi bekerja
karena enam hari pekerjaan penciptaan itu sudah selesai?  Menurut
Agustinus angka enam diakhiri dengan angka kesempurnaan karena angka
enam berarti Tuhan menyempurnakan segala sesuatu.  Lalu setelah
selesai barulah tiba hari ketujuh.  Berarti pekerjaan sudah genap
pada hari keenam.  Bila hari ketujuh berarti tidak lagi bekerja,
siapa yang menopang segala sesuatu yang telah diciptakan dan siapa
yang memelihara dunia ini?  Siapa yang memberi makan binatang-
binatang begitu banyak di dunia, yang memperbolehkan seluruh rotasi
bintang, planet, dan seluruh galaksi dalam angkasa ini berjalan
rutin?  Ini adalah pekerjaan Tuhan tahap kedua yang disebut
providensi atau pemeliharaan.  Setelah selesai pada hari keenam maka
Ia mulai melaksanakan pekerjaan pemeliharaan tetapi sebelum itu Dia
berhenti dari pekerjaan penciptaan.  Ia mulai memelihara sampai hari
ini.  Kita bisa hidup, bernafas, eksistansi kita berlangsung terus
menandakan Tuhan masih tetap mengerjakan pekerjaan pemeliharaanNya.
Bila mata lelah bisa ditutup.  Telinga lelah mendengar, bisa tidak
mau mendengar.  Tetapi hidung tidak akan berhenti bernafas.  Saat
tidur pun hidung tetap berkata dalam Kisah Rasul 17:28 bahwa sampai
sekarang gerak gerik dan eksistansi kita dan hidup kita ditopang dan
ditahan oleh Tuhan sendiri.  Jika Tuhan tidak meneruskan
pemeliharaanNya tidak ada satu pun yang akan hidup.
 
     Kalau bayi masih bisa bernafas untuk satu detik berikutnya
berarti Tuhan masih mengijinkan dia hidup.  Kalau engkau masih diberi
satu detik untuk tidak mati itu adalah karena Tuhan masih memelihara
engkau.  Oleh sebab itu jangan terlalu kuatir dengan kesehatanmu,
dengan penyakitmu dsb.  Makin kuatir hanya membuat makin sakit.
Tidak ada seorangpun yang dengan kekuatiran dan kecemasannya dapat
menambah hidup untuk sekejap.  Serahkan kepada Tuhan.  "Saya adalah
milik Tuhan.  Tuhan adalah Pemeliharaku.  Bila Tuhan mengijinkan saya
hidup 10 tahun lagi maka walau penyakit saya seberat apapun pasti
sembuh."  Jika Tuhan berkata, "Sekarang pulang!" maka dokter yang
paling hebat pun tidak dapat berbuat apa-apa.  Ini bukan berarti kita
tidak perlu mencari dokter.  Dokter pun diberikan kebijaksanaan oleh
Tuhan, walau tidak semua dokter bersandar kepada Tuhan, bila Tuhan
mengijinkan kesembuhan melalui dokter.  Mencari dokter tidak
bertentangan dengan Alkitab.  Tuhan Yesus sendiri berkata, "Orang
sakit memerlukan tabib."  Mencari dokter tidak salah tetapi bersandar
kepada dokter sepenuhnya dan tidak bersandar kepada Tuhan adalah
bahaya karena dokter hanya sebuah alat di tangan Tuhan.
 
     Hari Sabat Tuhan berarti Allah sendiri memilih hari itu untuk
berhenti dari pekerjaan mencipta tetapi tidak berarti Dia
beristirahat total.  Tuhan berhenti dari pekerjaan penciptaan dan
memulai suatu pekerjaan pemeliharaan.  Ini hanya ada pada Allah.
 
     Kedua, Hari Sabat yang kabur, yaitu dari masa Adam sampai Musa.
Kita tidak tahu dengan jelas adanya hari Sabat pada periode itu.
Dari zaman Adam sampai Musa, Tuhan tidak pernah memerintahkan
siapapun untuk menjalankan Sabat dan memelihara Sabat dengan baik.
Tidak pada masa Esau atau pun Yakub dan kedua belas anaknya.  Mereka
tidak diperintahkan memelihara hari ketujuh sebagai hari perhentian
dan hari suci.


===== Bersambung =========

From juri@vms.macc.wisc.edu Sat Mar 13 02:39:14 1993
Return-Path: 
Received: from wigate.nic.wisc.edu by tesla.ece.wisc.edu (4.1/25)
	id AA03445; Sat, 13 Mar 93 02:39:13 CST
Received: from Expander by wigate.nic.wisc.edu; Sat, 13 Mar 93 02:31 CST
Received: from 129.57.32.102 by wigate.nic.wisc.edu; Sat, 13 Mar 93 02:31 CST
Received: from cebaf.gov by cebaf.gov (PMDF #2693 )
          id <01GVQU2NXGXY934RDA@cebaf.gov>; Sat, 13 Mar 1993 03:30:31 EDT
Message-Id: <01GVQU2NXGY0934RDA@cebaf.gov>
Date: 13 Mar 1993 03:30:31 -0400 (EDT)
From: SURYA@cebaf.gov
Sender: juri@vms.macc.wisc.edu
Subject: Khotbah S.Tong (1. Hari sabat)(2/2)
To: fica-net@macc.wisc.edu
Expansion-Of: fica-net@wigate.nic.wisc.edu
X-Vms-To: IN%"fica-net@macc.wisc.edu"
Mime-Version: 1.0
Content-Transfer-Encoding: 7BIT
Status: RO

     Ketiga, Hari Sabat yang diberikan kepada orang Israel melalui
Musa THE SABBATH OF THE ISRAEL (Ulangan 5:15).  Perayaan hari Sabat
ini dengan hari yang sama tetapi dengan sebab yang berbeda.  Sabat
ini merupakan janji antara Yehovah dengan Israel.  Orang Israel
memperingati bahwa mereka pernah diperbudak di Mesir.
 
     Di dalam Sepuluh Hukum yang diberikan hanya satu yang
bersangkut-paut dengan satu bangsa, sedangkan yang lain bersangkutan
dengan moral dan tanggung jawab manusia atas ibadah terhadap Allah
dan moral terhadap sesama.  Hukum yang keempat bersangkut-paut pada
satu bangsa pada peristiwa dalam sejarah dan ditentukan pada hari
yang dicipta.  Menurut Immanuel Kant, agama adalah moral yang
digabungkan dengan ibadah.  Agama merupakan sistem moral dan ibadah.
Beribadah kepada Allah adalah hubungan secara vertikal.  Hubungan
antar manusia adalah hubungan horizontal.  Antara manusia dan Allah
itulah ibadah, antar manusia adalah etika, dan keduanya membentuk
suatu kerangka agama.  Hukum 1-4 mengatur hubungan manusia dengan
Allah dan hukum 5-10 mengatur hubungan antar manusia.
 
     Hanya hukum keempat yang merupakan suatu hukum yang
bersangkut-paut dengan pertama, bani Israel sebagai umat pilihan
Tuhan; Kedua, pengalaman perbudakan di Mesir dan pembebasan Tuhan;
Ketiga, penetapan perayaan hari ketujuh untuk bangsa Israel.  Ini
khusus ditujukan kepada bangsa Israel.
 
     Bagi kita, orang Kristen, yang mengerti arti sesungguhnya dari
peristiwa itu, hal ini melambangkan pengalaman yang sama tetapi dalam
bidang yang lain.  Pengalaman perbudakan yang pernah kita alami
adalah perbudakan di bawah kuasa setan.  Kita dibelenggu dalam kuasa
dosa dan kemudian mengalami suatu kelepasan dalam anugerah Tuhan
melalui Kristus.  Dalam PL Tuhan memakai Musa untuk mengeluarkan
orang Israel dari Mesir, dalam PB Allah mengutus Tuhan Yesus untuk
mengeluarkan kita dari kuasa dosa dan maut.  Perbudakan ini kita
alami ada di dalam bidang rohani.
 
     Keempat, Sabat sesudah keluar dari Babel.  Pernah dikatakan
bahwa "Pada hari itu engkau akan menerima perhentian dan ingat bukan
Allah yang mengeluarkan engkau dari Mesir tetapi Allah yang
mengeluarkan engkau dari tanah di mana engkau sudah ditawan.  Dalam
tawanan, Israel mengingat Tuhan kembali yang telah mengeluarkan
mereka dari Babilonia, berarti pekerjaan pelepasan dari Tuhan
berjalan terus menerus.  Proses itu terus berlangsung dan Tuhan akan
memberikan padamu satu pengalaman yang baru.  Jika pada orang lain
ada pelepasan maka dalam dirimu juga ada pelepasan.  Walau
peristiwanya berbeda.  Setiap orang diciptakan secara individu dan
Tuhan bekerja sepanjang sejarah, dan belum pernah berhenti.  Orang
Israel akan mengingat Tuhan bukan saja karena pekerjaanNya terhadap
nenek moyang mereka ketika keluar dari Mesir, tetapi juga diri mereka
sendiri ketika keluar dari tempat pembuangan.
 
     Kelima, Hari Sabat Paradoks Tuhan Yesus Kristus - PARADOXICAL OF
JESUS.  Hari Sabat ini berbeda dengan hari Sabat orang Israel yang
diperintahkan dalam hukum keempat.  Ini adalah hari Sabat Allah
menjadi manusia.  Dalam diri Kristus ada satu hidup yang paradoks,
kelihatannya paling gagal tetapi sebenarnya paling sukses,
kelihatannya sebagai orang yang paling lemah tetapi sebenarnya paling
berkuasa, sebagai manusia yang paling hina tetapi adalah orang yang
terhormat, orang yang mati tetapi sebenarnya mengalahkan kematian
dengan bangkit dari kematian di dalam kuasa kebangkitan.  Demikian
juga hari Sabat Tuhan Yesus, bersifat paradoks.
 
     Menurut orang Yahudi, Tuhan Yesus tidak memelihara hari Sabat,
sehingga mereka mau membunuh Tuhan Yesus.  Tetapi bagi orang Kristen,
Tuhan Yesus menjalankan hari Sabat, bahkan Dia adalah Tuhan dan makna
sepenuhnya dari hari Sabat.  Ia adalah THE MASTER OF THE SABBATH,
Tuhan dari Sabat, maksudnya semua orang yang diperintahkan Tuhan
untuk memelihara hari Sabat adalah mereka yang harus menaklukkan diri
ke bawah hari itu.  Satu hal yang mengikat kita.  Tetapi Tuhan Yesus
adalah Tuan, Pemilik dari hari Sabat juga atas hari-hari lainnya.
Inilah paradoks dari Tuhan Yesus Kristus.
 
     Markus 2:27-28 menunjukkan salah satu prinsip penting dari
pengajaran Tuhan Yesus adalah titik berat atau penekanan pada hal-hal
yang ada.  Jika baju pengantin lebih ditekankan dari pengantinnya
sendiri maka mungkin pernikahan itu tidak bisa dilangsungkan.
Manusia seringkali lebih mementingkan uang daripada hidup.  Hidup
untuk uang atau uang untuk hidup?  Ada orang beli kue karena senang
dengan kotaknya, atau beli minyak wangi karena botolnya yang menarik.
Tuhan Yesus langsung menunjukkan titik berat dari hari Sabat dalam
relasinya dengan manusia.  Manusia bukan diciptakan untuk hari Sabat,
tetapi hari Sabat diciptakan untuk manusia.  Kalau saya merayakan
hari Sabat hanya untuk membuktikan jika saya paling cinta Tuhan maka
itu adalah munafik.  Jika hari Sabat menjadikan engkau membanggakan
diri lebih dari orang lain itu hanya membuat engkau berdosa.  Padahal
hari Sabat ditetapkan agar kita berhenti berbuat dosa, menerima
perhentian dan tidak lagi diikat oleh dosa.  Tuhan Yesus berkata
Sabat untuk manusia, bukan kebalikannya.  Jika Sabat merupakan suatu
perhentian yang dijanjikan sehingga manusia boleh mendapatkan satu
perhentian dari segala frustasi, tekanan psychology, tekanan jiwa,
dan menenangkan diri di hadapan Tuhan, itulah Sabat.  Jangan dicampur
aduk dengan hal-hal yang lain.  Iman mempunyai arti perhentian,
percaya Tuhan Yesus tidak berarti kita melarikan diri dari tanggung
jawab.  Sebaliknya percaya kepada Tuhan Yesus memberikan satu
kesadaran bahwa kita tidak akan sanggup untuk menanggung tanggung
jawab kita dengan kekuatan kita sendiri.  Itulah sebabnya kita
membutuhkan persekutuan dengan Tuhan.  Di dalam Dia kita mendapatkan
kekuatan, kuasa untuk perhentian dari beban berat dalam hidup kita
masing-masing.
 
     Orang Yahudi tidak mengakui Tuhan Yesus merayakan hari Sabat.
Hari Sabat Tuhan Yesus adalah hari Sabat yang paradoks, yang
sepertinya salah tetapi sesungguhnya benar.  Tuhan Yesuslah yang
menentukan hari Sabat, maka Dia tidak mungkin melanggar hari Sabat.
Karena yang menentukan mengerti dengan sesungguhnya untuk apa hari
Sabat.  Sama seperti orang yang bertanya, "Yesus adalah Anak Allah?
Kalau begitu Allah adalah BapaNya, lalu di mana ibuNya?  Orang yang
mengatakan kalimat ini hanya menyatakan kebodohannya.  Karena Yesus
adalah Allah yang menetapkan manusia pria dan wanita melahirkan anak,
yang menetapkan prinsip ini juga menetapkan tidak perlu satu maskulin
dan satu feminin baru bisa meneruskan generasi, misalnya cara amuba
berkembang biak.  Allah yang menetapkan dalil, tetapi Allah tidak
diikat oleh dalil yang ditetapkan olehNya sendiri.  Ia yang
menciptakan supra, waktu, tempat yang melebihi ruang, alam, dan supra
alam.  Jika tidak demikian maka berarti Dia bukan Allah.  Golongan
yang tidak percaya mujizat adalah mereka yang berusaha memasukkan
Allah dalam alam yang diciptakan oleh Allah sendiri.  Mereka hanya
menyatakan kebodohan mereka sendiri dengan menganggap Tuhan Yesus
sebagai manusia dan berusaha mengikat Dia di dalam alam.
 
     Kalau Tuhan menetapkan hari Sabat, maka Dia adalah Tuhan atas
hari Sabat dan lebih tinggi daripada hari Sabat.  Pengertian hari
Sabat orang Israel adalah pengertian yang salah.  Mereka menafsirkan
itu dengan arti: tidak melakukan atau mengerjakan sesuatu yang
menjadi bukti cinta mereka kepada Tuhan.
 
     Ketika Tuhan Yesus berkata, "Bangunlah, angkatlah tilammu dan
berjalanlah," ini merupakan bukti bahwa Tuhan Yesus adalah Allah yang
memelihara.  Allah memelihara, memberikan hidup kepada manusia dan
Allah masih tetap bekerja dengan kuasa pemeliharaanNya.  Tetapi
mereka tidak mengerti.
 
     Keenam, hari Sabat yang mempunyai pengertian yang lebih dalam
dan bila tidak dimengerti menjadi hari Sabat yang dibenci oleh Tuhan
(Yesaya 1:13).  Mengapa Tuhan mengatakan, "Jangan lagi membawa
persembahan hari Sabatmu, Aku tidak tahan." ?  Karena mereka tidak
mengerti arti sesungguhnya dari Sabat, hanya memelihara harinya
dengan tidak mengerti arti sesungguhnya.  Hal itu tidak menyenangkan
Tuhan:  Hanya memelihara hari tetapi tidak mengerti arti sesungguhnya
dari penetapan hari Sabat yang sesuai dengan isi hati Tuhan sendiri.
Ini sangat tidak menyenangkan hati Tuhan.  Maka dalam terjemahan lain
Tuhan mengatakan, "Aku sudah bosan dan benci akan hari sabatKu, Aku
merasa benci atas semua persembahanmu karena dalam persembahanmu ada
hal-hal yang cemar."
 
     Ketujuh, Sabat Perhentian. (Ibrani 4:3-5, 11; Kolose 2:16,17)
Tuhan Yesus berkata, "Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan
berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." (Matius 11:28)
Perhentian adalah dari Tuhan sendiri, suatu perhentian yang
sesungguhnya.  Sewaktu Tuhan Yesus mati dan sesudah bangkit dari
antara orang mati, waktu sepuluh kali Ia berjumpa dengan murid-murid,
perempuan yang mengasihiNya, orang banyak di mana Ia ingin menyatakan
diri pada mereka, selalu kalimat, "Damai sejahteralah kamu," keluar
dari mulut Tuhan Yesus pada permulaan pertemuan mereka.  Tuhan Yesus
sudah berperang dengan kuasa gelap dan setan di dalam kematianNya
untuk menghentikan kuasa setan yang telah merebut perhentian kita
masing-masing.  Yesus Kristus berperang untuk menghentikan kuasa dosa
yang selalu merampas kebebasan dan ketenangan kita di hadapan Tuhan
Allah.  Dan juga Ia telah mengalahkan kuasa kematian yang merampas
kedamaian kita karena diancam oleh kematian.  Puji Tuhan kalau hari
ini kita memperoleh kedamaian dan sejahtera yang sesungguhnya di
dalam Kristus.  Tuhan Yesus selalu berkata, "Peace on you."
Berlainan dengan setan yang berkata, "Shame on you."
"Dipermalukanlah engkau karena dosamu, bergumulah karena segala
kesalahanmu, hati nuranimu akan selalu menegur sehingga engkau tidak
mempunyai damai."  Tetapi Tuhan Yesus selalu berkata, "Damai
sejahteralah kamu."  Karena dosamu sudah diampuni, permusuhan engkau
dengan Tuhan sudah Ia hapuskan.  Tuhan Yesus adalah Tuhan atas hari
Sabat.
 
 
 
====================== end ==========================================

From juri@vms.macc.wisc.edu Sat Mar 20 04:59:07 1993
Return-Path: 
Received: from wigate.nic.wisc.edu by tesla.ece.wisc.edu (4.1/25)
	id AA20874; Sat, 20 Mar 93 04:59:06 CST
Received: from Expander by wigate.nic.wisc.edu; Sat, 20 Mar 93 04:55 CST
Received: from 129.57.32.102 by wigate.nic.wisc.edu; Sat, 20 Mar 93 04:54 CST
Received: from cebaf.gov by cebaf.gov (PMDF #2693 )
          id <01GW0R2ZMK7495MPIM@cebaf.gov>; Sat, 20 Mar 1993 05:54:01 EDT
Message-Id: <01GW0R2ZMTUA95MPIM@cebaf.gov>
Date: 20 Mar 1993 05:54:01 -0400 (EDT)
From: SURYA@cebaf.gov
Sender: juri@vms.macc.wisc.edu
Subject: Khotbah S. Tong (2. Awasi Ajaranmu) (1/3)
To: fica-net@macc.wisc.edu
Expansion-Of: fica-net@wigate.nic.wisc.edu
X-Vms-To: IN%"fica-net@macc.wisc.edu"
Mime-Version: 1.0
Content-Transfer-Encoding: 7BIT
Status: RO

                                   
 
                 AWASILAH DIRIMU SENDIRI DAN AJARANMU
                                   
                                   
                         Pdt. Dr. Stephen Tong
                                   
                                   
I Timotius 4:16
 
     Awasilah dirimu  sendiri dan awasilah ajaranmu.  Bertekunlah dalam
semuanya itu,  karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan
dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.
 
 
     Di dalam  ayat ini  kita melihat  relasi keseimbangan  yang sangat
esensi: (1)  dirimu dengan  ajaranmu, (2)  ajaranmu dengan keselamatan,
dan (3)  yang  mengajar  dengan  yang  diajar  di  dalam  dan  mengenai
keselamatan.   Kita hanya  akan memikirkan  relasi yang  pertama, yakni
antara dirimu dengan ajaranmu.
 
AWASILAH DIRIMU
 
     Yesus Kristus  pernah berkata:  "Kamu dapat  membedakan musim ini,
tetapi  kamu   tidak  dapat   melihat  dan   membedakan   zaman   ini."
(Matius 6:2-3)   Jikalau kita sebagai orang Kristen tidak dapat melihat
dan membedakan  zaman dimana  kita hidup, maka kita akan gagal di dalam
menunaikan tugas  dan tanggung  jawab kita  di  zaman  dan  dunia  ini.
Sebagai orang  Kristen kita  harus mempunyai  pikiran yang kritis, juga
penglihatan rohani yang tajam, di tengah-tengah paradoksi zaman ini; di
tengah perkembangan  serta kemajuan ilmiah dan teknologi di satu pihak,
dan  di   pihak  lain   pergolakan  politik,  pertukaran  pemerintahan,
perubahan zaman, kekacauan, tekanan, dan ketegangan hidup.
 
     Tuhan Yesus juga menegur orang-orang pada zamanNya: "Angkatan yang
jahat dan tidak setia." (Matius 12:39)  Atau "Suatu generasi yang jahat
dan berzinah."   (An evil and adulterous generation)  Di zaman sekarang
ini bukankah kita menyaksikan hal yang sama -- kejahatan dan perzinahan
-- di  bagian mana  pun di  dunia ini?   Mengenai  zaman ini,  di dalam
Matius 17:17 Tuhan Yesus juga berkata, "Angkatan yang tidak percaya dan
sesat."     Lebih  tepat   dikatakan  "Generasi  tanpa  iman  dan  suka
menentang." (Faithless  and perverse generation)  Kita perlu memikirkan
apa arti  perkataan Yesus  Kristus ini: "Kita hidup di zaman yang tidak
percaya atau  tanpa iman."   Kita perhatikan, dalam perkembangan ilmiah
dan  teknologi   sekarang  ini  terjadi  suatu  zaman  baru  dari  ilmu
pengetahuan dan  teknologi.  Dan sekarang telah muncul apa yang disebut
IMAN BARU  DARI ALIRAN ILMIAH (new faith of scienticism) yang bertujuan
menggantikan iman  yang alkitabiah  (biblical faith)   Zaman nuklir ini
sudah menghapuskan  iman yang  banyak terukir  pada masa  yang  lampau.
Misalnya jika kita memikirkan perbedaan antara Abraham dengan kita yang
hidup pada  zaman sekarang  ini,   Abraham tidak pernah membaca Alkitab
atau buku-buku  rohani yang  belum ada  pada zamannya.   Tetapi, ketika
Abraham mendengar  satu kalimat Firman Tuhan, Abraham langsung percaya,
memegang, dan  melakukannya.   Sebab itu  Abraham disebut  "Bapa  orang
beriman."  Kita sekarang yang mempunyai dan membaca Alkitab serta buku-
buku rohani,  bahkan mendengarkan  khotbah-khotbah setiap minggu, sukar
melaksanakan Firman  Tuhan dalam  kehidupan kita  sehari-hari.   Inilah
tanda-tanda generasi  yang kurang  atau tanpa  iman.   Kalau  di  dalam
kekristenan saja  sudah ada gejala generasi yang tidak percaya, apalagi
di luar kekristenan.  Kita memang tidak dapat menyangkal ada kuasa baru
(new power) dalam  ilmu pengetahuan,  yang menjawab persoalan-persoalan
hidup  manusia  hanya  dengan  memencet  tombol-tombol  komputer  lebih
daripada menaikkan  doa kepada Tuhan.  Di dalam tangan manusia sekarang
ada kuasa,  dan bagi  manusia dengan dengan pikiran yang terbatas kuasa
itu menjadi allah atau ilah.  Jadi di dalam formula atau cara yang baru
sekali lagi kita mendengar apa yang pernah dikatakan setan kepada nenek
moyang kita,  Adam, "Kamu  akan menjadi Allah."  Jikalau manusia merasa
bisa seperti Allah, maka manusia akan berpikir tidak perlu lagi percaya
kepadaNya.   Di zaman angkatan yang tidak percaya seperti inilah sekali
lagi Firman  Tuhan  memperingatkan  kita:  "Awasilah  dirimu."    Atau,
"Perhatikanlah  dan  peliharakanlah  dirimu."  (KJV:  "Take  heed  unto
thyself.")
=================Bersambung ===========================================

From juri@vms.macc.wisc.edu Sat Mar 20 05:03:07 1993
Return-Path: 
Received: from wigate.nic.wisc.edu by tesla.ece.wisc.edu (4.1/25)
	id AA20879; Sat, 20 Mar 93 05:03:07 CST
Received: from Expander by wigate.nic.wisc.edu; Sat, 20 Mar 93 04:56 CST
Received: from 129.57.32.102 by wigate.nic.wisc.edu; Sat, 20 Mar 93 04:55 CST
Received: from cebaf.gov by cebaf.gov (PMDF #2693 )
          id <01GW0R4FSDH295MPIM@cebaf.gov>; Sat, 20 Mar 1993 05:54:24 EDT
Message-Id: <01GW0R4FSN4895MPIM@cebaf.gov>
Date: 20 Mar 1993 05:54:24 -0400 (EDT)
From: SURYA@cebaf.gov
Sender: juri@vms.macc.wisc.edu
Subject: Khotbah S. Tong (2. Awasi Ajaranmu) (2/3)
To: fica-net@macc.wisc.edu
Expansion-Of: fica-net@wigate.nic.wisc.edu
X-Vms-To: IN%"fica-net@macc.wisc.edu"
Mime-Version: 1.0
Content-Transfer-Encoding: 7BIT
Status: RO

     Dalam hubungan  vertikal kita  dengan  Tuhan  dan  dalam  hubungan
horizontal kita  dengan sesama,  kita  perlu  memperhatikan  diri  kita
sendiri; mengapa?   Pertama,  siapakah diri  kita dalam  hubungan  kita
dengan Tuhan?   Berdasarkan  Firman Tuhan di dalam I Korintus 6:19 kita
tahu bahwa  diri kita  bukanlah milik  kita sendiri.   (Ye are not your
own)   Dasar hukumnya kuat: "Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah
lunas dibayar."  (ayat 20)   Kita  telah dibeli  dengan tunai  -- bukan
secara angsuran  atau kredit  -- melalui  pengorbanan Kristus  di  kayu
salib.   Jika demikian,  pertama kita perlu memikirkan, berapa mahalkah
diri kita?   Lebih  mahal daripada  perak, emas, atau batu permata yang
bersifat fana,  karena kita  ditebus dengan  darah Kristus  yang  mahal
(PRECIOUS BLOOD  OF CHRIST)  yang bersifat  kekal.   (I Petrus 1:18-19)
Hanya pada  waktu seorang  Kristen menyadari dan yakin dirinya demikian
mahal, dia akan menghargai dirinya.  Mengapa banyak orang Kristen tidak
menghargai dirinya  sendiri, hidup  sembarangan dan  tidak berarti apa-
apa?   Sebab mereka  mengira terlalu  murah  dan  mudah  menjadi  orang
Kristen.   Lalu kita  memikirkan, jikalau diri kita dibeli, berarti ada
transaksi jual  beli dan  pembayaran; pembayaran  itu diberikan  kepada
siapa?   Bukan kepada setan.  Setan tidak berhak atas diri kita, karena
bukan setan  yang menciptakan  manusia.  Tetapi manusia yang diciptakan
Allah menurut  gambar dan  rupaNya telah  jatuh ke dalam dosa, sehingga
manusia berada di bawah penguasaan tawanan setan, dan perlu dibebaskan.
Pembayaran atas  manusia  diberikan  kepada  Allah;  mengapa?    Karena
manusia telah  berbuat dosa  dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma
3:23)   Orang berdosa  telah kehilangan  kemuliaan Allah;  semua  orang
telah kehilangan  statusnya di  hadapan Allah.   Sebab  itu  pembayaran
harus diberikan  kepada Allah untuk mendapatkan kembali kemuliaan Allah
yang telah  hilang dari  hidup manusia  berdosa.   Artinya, pada  waktu
orang berdosa  datang dan  menerima Kristus menjadi Juruselamatnya, dia
mendapatkan  kembali  kemuliaan  Allah  dalam  hidupnya.    Sebab  itu,
"Hendaklah kamu  memuliakan Allah."  (I Korintus  6:20)   Orang  dunia,
orang berdosa  yang belum ditebus, tidak mungkin memuliakan Allah dalam
pengertian yang sebenarnya.  Sebaliknya, hidup orang Kristen yang tidak
memuliakan Allah  merupakan penghinaan  terhadap pekerjaan  Kristus  di
atas kayu salib.  Maka kepada setiap orang Kristen dikatakan: "Awasilah
dirimu."   Diri kita  sangat bernilai.   Sudahkah  kita menghargai diri
kita?    Jikalau  kita  mempunyai  barang  berharga,  kita  tentu  akan
menyimpannya  di  tempat  yang  aman,  karena  kita  bertanggung  jawab
memelihara barang  yang sangat  berharga itu.  Jikalau kita sadar, diri
kita begitu  mahal di  hadapan Tuhan,  siapakah yang  bertanggung jawab
memelihara diri  kita?   Tentu Tuhan  bertanggung jawab memelihara diri
kita,  sekalipun  dunia  bergolak  dan  hilang  lenyap.    Kalau  Tuhan
bertanggung jawab,  maka Dia  juga berhak  atas diri  kita.   Sebab itu
dikatakan "YOU ARE NOT YOUR OWN" (tidak memakai kata 'possess')  Apakah
bedanya OWNER  (pemilik) dengan  POSSESSOR (penguasa)?    OWNER  adalah
pemilik yang  sebenarnya,  yang  berhak  terhadap  sesuatu  sepenuhnya,
sedangkan POSSESSOR  hanyalah penguasa yang dipercayakan sesuatu, bukan
pemilik yang sesungguhnya.  Pada siapakah penguasaan atas hidup, waktu,
pikiran, tenaga,  talenta, dan  harta kekayaan  kita?   Pada diri  kita
sendiri.   Tetapi semuanya  itu sebenarnya  milik Tuhan.  Maka Tuhanlah
yang berhak  memakai semua  itu, bukan  diri kita  sendiri.   Di tengah
krisis manusia  (Anthropological  Crisis)  zaman  sekarang  ini,  Tuhan
bertanggung jawab,  tetapi  juga  berhak  atas  diri  dan  hidup  kita.
Sudahkah kita  memberikan hak atas diri kita itu kepada Tuhan?  Relakah
kita menyerahkan  diri kita  kepada Pemiliknya?   Kalau  orang  Kristen
tetap memegang  hak atas dirinya itu, ia tidak bisa berkarya bagi Tuhan
dan menyatakan  arti eksistensi atau kehadirannya di dunia.  Jadi dalam
hubungan vertikal  dengan Tuhan,  kita perlu  ingat   "YOU ARE NOT YOUR
OWN."

======================= Bersambung =====================================

From juri@vms.macc.wisc.edu Sat Mar 20 05:07:15 1993
Return-Path: 
Received: from wigate.nic.wisc.edu by tesla.ece.wisc.edu (4.1/25)
	id AA20884; Sat, 20 Mar 93 05:07:14 CST
Received: from Expander by wigate.nic.wisc.edu; Sat, 20 Mar 93 04:56 CST
Received: from 129.57.32.102 by wigate.nic.wisc.edu; Sat, 20 Mar 93 04:55 CST
Received: from cebaf.gov by cebaf.gov (PMDF #2693 )
          id <01GW0R4X27NW95MPIM@cebaf.gov>; Sat, 20 Mar 1993 05:54:43 EDT
Message-Id: <01GW0R4X27NY95MPIM@cebaf.gov>
Date: 20 Mar 1993 05:54:43 -0400 (EDT)
From: SURYA@cebaf.gov
Sender: juri@vms.macc.wisc.edu
Subject: Khotbah S. Tong (2. Awasi Ajaranmu) (3/3)
To: fica-net@macc.wisc.edu
Expansion-Of: fica-net@wigate.nic.wisc.edu
X-Vms-To: IN%"fica-net@macc.wisc.edu"
Mime-Version: 1.0
Content-Transfer-Encoding: 7BIT
Status: RO

======================================================================
     
     Kedua, siapakah diri kita dalam hubungan dengan sesama?  "Kami ini
adalah utusan-utusan  (duta-duta) Kristus."  (II Korintus  5:20)   Kata
yang digunakan  Rasul Paulus  secara khusus  di sini adalah PRESBIOTES.
(Latin: LEGATUS,  Inggris: AMBASSADOR)   Di dalam kekaisaran Romawi ada
dua macam propinsi: Yang dikontrol oleh Senat (senatorial province) dan
yang langsung  dikuasai oleh  Kaisar (imperial province)  Propinsi yang
di bawah  Senat biasanya  tidak membahayakan  dan tidak  sering terjadi
kekacauan  atau   permberontakan,  sehingga  tidak  ditempatkan  laskar
Romawi.     Tetapi  di  daerah-daerah  yang  sering  terjadi  huru-hara
ditempatkan laskar-laskar  Romawi dan  langsung diperintah oleh Kaisar.
Di SENATORIAL PROVINCE kaisar tidak bisa berada di tempat itu, maka dia
mengutus seorang  duta yang  bertindak atas  nama kaisar.   Utusan  ini
disebut PRESBIOTES,  yang menerima  tugas  langsung  untuk  menjalankan
perintah kaisar.   Paulus  menganggap dirinya  sebagai presbiotes  yang
diutus Kristus  untuk melakukan  tugas Kristus  di dunia  atas namaNya.
Kedua, setelah  suatu  negara  atau  daerah  ditaklukkan  oleh  tentara
Romawi, maka  Senat akan  memutuskan negara/daerah itu menjadi keluarga
kekaisaran Romawi.   Untuk  itu Senat akan mengutus beberapa orang yang
juga disebut  presbiotes bersama-sama  jenderal yang mengalahkan daerah
atau  negara   itu  guna   mengadakan  suatu   negosiasi  (perundingan)
menentukan tapal batas, peraturan, atau undang-undang yang akan berlaku
di situ.   Setelah  semua pekerjaan  itu selesai, mereka menyerahkannya
kepada Senat  untuk disetujui dan diratifikasi.  Jadi presbiotes adalah
orang  yang  bertugas  mempersiapkan  atau  menjadikan  penduduk  suatu
daerah/negara sebagai  keluarga kekaisaran  Romawi.  Paulus menggunakan
sebutan presbiotes  ini untuk  dirinya karena  dia  menganggap  dirinya
bukan saja  diutus oleh  Kristus untuk  mengerjakan pekerjaan  Kristus,
tetapi juga  bagaimana mempersiapkan  dan membawa  orang-orang di dunia
ini masuk  ke dalam  keluarga Allah.   Sebagai  orang Kristen kita juga
adalah duta-duta  Kristus untuk melakukan pekerjaanNya di dunia ini dan
membawa orang-orang lain supaya menjadi anggota keluarga Allah.  Inilah
misi, tugas, dan tanggung jawab kita terhadap dunia ini.
 
KRITERIA SEORANG DUTA KRISTUS
 
     Sebagai duta-duta Kristus ada dua kriteria penting yang harus kita
perhatikan:   Pertama, warna  hidup yang tidak sama.  Misalnya, seorang
Indonesia yang menjadi duta besar di Amerika; dia berada di tempat yang
bahasa, kebiasaan, atau cara hidupnya tidak sama dengan tempat asalnya.
Tetapi dia  tetap warga  negara Indonesia.   Jadi dia harus menunjukkan
perbedaan warna  hidup yang  tidak sama.   Sebagai  orang Kristen  kita
menjalankan kehidupan  di dunia,  tetapi kita  tidak sama dengan dunia.
Kita sebagai duta-duta Kristus harus dapat menunjukkan warna hidup yang
tidak sama  dengan  orang-orang  dunia  yang  belum  mengenal  Kristus.
Seorang duta  hanya bisa  berhasil kalau  dia dapat  menunjukkan  warna
hidup yang  tidak sama.   Demikian  juga  seorang  Kristen  hanya  bisa
berhasil menjalankan  misinya sebagai  duta  Kristus  kalau  ia  berani
menunjukkan perbedaan warna hidupnya.
 
     Kedua, kehormatan  dan misi.   Kehormatan  suatu negara ditentukan
oleh  dutanya;   bagaimana  orang  menilai  suatu  bangsa  atau  negara
ditentukan oleh  apa yang  mereka dengar  dan lihat  dari perkataan dan
perbuatan dutanya.   Jadi,  di atas  diri seorang  duta terletak  suatu
kehormatan  bangsa,  dan  ini  merupakan  tanggung  jawab  yang  besar.
Demikian juga kehormatan Kristus dan gerejaNya berada di atas diri kita
sebagai duta-dutaNya.   Bagaimana pandangan orang lain terhadap Kristus
dan gerejaNya  sering dilihat  dari bagaimana  kesaksian hidup  kita di
hadapan mereka.   Karena  kita mempunyai misi yang berat ini, maka kita
harus dapat melihat dan membedakan zaman ini.  Seorang duta yang diutus
oleh suatu  negara tentu  dipilih yang  terbaik, dan  dia akan berusaha
memberikan yang  terbaik bagi  negaranya.   Sebagai duta  Kristus  kita
adalah yang  terbaik yang diutus Tuhan ke dalam dunia ini.  Masalahnya,
sudahkah kita  memberikan dan  melakukan yang  terbaik bagi Tuhan kita?
Sebab itu  Paulus memperingati  kita: Awasilah  dirimu.  Kita mempunyai
status sebagai  duta Kristus,  tetapi juga  mempunyai misi dan tanggung
jawab dalam kehidupan kita.
 
AWASILAH AJARANMU
 
     Pengajaran berhubungan  dengan theologia, karena theologia berasal
dari kata  Yunani THEOS (Allah) dan LOGOS (firman, kalam, atau doktrin)
Jikalau orang Kristen tidak memperhatikan dan memikirkan hal ini dengan
serius, maka  ada suatu  bahaya yang  akan mengancam  kehidupan gereja.
Pandangan keliru  yang telah  merasuki banyak  orang Kristen  sekarang;
Pengajaran tidak  penting  dan  theologia  tidak  perlu,  yang  penting
pengalaman dan  giat bekerja  bagi Tuhan.   Padahal  tanpa doktrin yang
benar, maka  segala pelayanan  kita tidak  mempunyai arah  dan  tujuan.
Tanpa theologia  yang kuat,  masa depan  gereja akan  suram.   Di dalam
Alkitab kita  dapat melihat  banyak contoh.   Bileam disebut nabi palsu
dan akhirnya  dibinasakan Tuhan  karena  pengajarannya  salah.    Orang
Kristen harus  kembali kepada  pengajaran Alkitab  yang benar.    Dalam
hidup pelayananNya,  Tuhan Yesus  sangat menekankan pengajaran di dalam
khotbah-khotbahNya.   Contoh pengajaran  di dalam  Kristologi:  Kristus
adalah Allah  sejati dan  manusia sejati.   Kalau  Yesus Kristus  bukan
Allah sejati,  Dia tidak  dapat menjadi  Juruselamat manusia; kalau Dia
hanya manusia  sejati, tetapi bukan Allah, maka Dia tidak dapat bangkit
dari antara  orang mati.   Juga,  kalau Yesus bukan manusia sejati, Dia
tidak akan dapat mati di atas kayu salib menggantikan kita.
 
     Di tengah  perkembangan persekutuan-persekutuan  yang cukup banyak
sekarang ini,  kita perlu  memperhatikan: Orang yang berdiri berkhotbah
harus terlebih  dahulu belajar  baik-baik.  Jangan sembarangan mengajar
orang lain  sebelum kita  mengerti  benar-benar  Firman  Tuhan,  karena
pengertian yang  salah akan  menimbulkan kekacauan  dalam  gereja,  dan
dapat membingungkan  dan membimbangkan  orang Kristen.   Sebagai  orang
Kristen, hamba  Tuhan atau  jemaat, kita  harus mengerti  Firman  Tuhan
dengan benar  dan tepat,  serta secara  keseluruhan, baru kemudian kita
boleh mengajar  dan memberitakan  Injil kepada  dunia ini.   Di dalam I
Timotius 4:16 ini kita melihat ada suatu relasi yang erat diantara diri
dan pengajaran kita.  Kalau pengajaran kita salah/sesat, maka diri kita
dan orang  lain yang  kita ajar  tidak akan  selamat.  Tidak cukup kita
hanya bergiat  bagi Tuhan;  kita harus mempunyai pengajaran yang benar.
Memang pengajaran tidak menyelamatkan kita, melainkan hanyalah anugerah
Allah yang  kita terima  pada saat kita percaya kepada Kristus.  Tetapi
seorang yang  sudah diselamatkan  harus dikuatkan dan bertumbuh menjadi
orang Kristen  yang dewasa  dengan doktrin  yang benar, pengajaran yang
tepat, atau  theologia yang sejati.  Hanya orang Kristen yang bertumbuh
dan menjadi  kuat dalam  pengenalan akan  Tuhan yang dapat bekerja bagi
Tuhan.   Di dalam  Kisah Para  Rasul 26:24-25 kita membaca Rasul Paulus
mengemukakan dan  mempertanggungjawabkan semua  pengetahuan Alkitab dan
pengertian theologianya  di  hadapan  raja  Agripa  dan  para  pejabat.
Sekalipun Festus  mencap dia  gila, Paulus  hanya menjawab: "Saya tidak
gila.   Saya mengatakan  kebenaran dengan  pikiran yang sehat!"  Paulus
adalah seorang yang berilmu, berpengetahuan Alkitab luas, dan mempunyai
pengertian tentang theologia yang sangat dalam, tetapi dia rela menjadi
"gila" bagi  Tuhan; artinya, mempunyai hati yang berkobar-kobar bekerja
bagi Tuhan.   Sekarang  kita melihat  dua keadaan ekstrim: Banyak orang
Kristen yang  bergiat bagi  Tuhan, tetapi  tidak mempunyai  pengetahuan
yang dalam  tentang kebenaran.   Sebaliknya,  banyak orang Kristen yang
mengerti kebenaran sangat banyak, tetapi tidak rela bergiat bagi Tuhan.
Hari  ini   gereja  membutuhkan   orang-orang  Kristen  yang  mempunyai
pengetahuan  Alkitab  yang  luas  tetapi  juga  rela  bergiat  melayani
pekerjaan Tuhan.   Kita  yang hidup  di zaman ini, relakah dan sudahkah
kita mengawasi diri kita dan ajaran kita untuk kemuliaan Tuhan?
 
============================== End =====================================