Book Review: JIHAD TERLARANG
Handi Cokrojoyo

JIHAD TERLARANG

Penulis: Mataharitimoer, (1971 – ) http://mataharitimoer.blogsome.com

Penerbit: Jakarta : Kayla Pustaka, 2007 http://www.kaylapustaka.com

ISBN: 9789791450010

“Tuhan itu Mahatahu dan Maha Pengasih! Dia tahu segala yang kamu rasakan. Dia pun mengasihimu dengan cara-Nya sendiri, dengan rahasia-Nya sendiri. Bamaimanpun beratnya hari-harimu, tetap saja Tuhan mencintaimu walau kamu tak pernah menyadarinya”

- Malik, anggota pergerakan, dalam Jihad Terlarang oleh Mataharitimoer.

SINOPSIS

Eddy Prayitno lahir pada tanggal 14 Juni 1971 di Jakarta. Orangtuanya adalah perantau, di mana ayah bekerja sebagai kuli panggul di Tanjung Priok dan ibu menjadi kuli cuci setrika di rumah.

Alur riwayatnya mengalami perubahan tajam ketika ia kehilangan kedua orangtuanya. Ayahnya terbunuh tentara dalam peristiwa 12 September 1984 di Tanjung Priok (Insiden ini bisa dibaca lebih jauh di http://www.kontras.org/tpriok/index.php) dan ibunya mati penasaran tak lama kemudian. Dalam dendam dan frustasi, penulis meninggalkan semuanya termasuk Tuhan. Hidupnya telah dibuat yatim piatu yang harus mengadu nasib di jalanan.

Hidupnya di jalanan ini menemukannya dengan pergerakan bawah tanah. Pada awalnya hal ini disambut dengan sangat gembira oleh penulis. Gerakan ini menawarkan suatu paham dan nilai yang menjanjikan, menjawab dan memenuhi kekosongan yang selama ini dideritanya. Ia kembali menemukan makna hidup sekaligus imannya kembali, yang lalu diperjuangkan dengan sungguh-sungguh bertahun-tahun di dalam pergerakan tersebut.

Lambat laun namun ia menemukan adanya kontradiksi antara ideologi dan realisasi di dalam pergerakan. Banyak kontradiksi antara apa yang diajarkan dengan apa yang diterapkan. Perselisihan dan perbedaan pendapat dengan para peimimpinnya diakhiri dengan ia memisahkan diri dari pergerakan da mendirikan LSM sendiri. Aksinya ini membuat dia dicap sebagai pengkhianat dan pemberontak. Hidupnya harus dijalani dengan fitnah, provokasi dan tentu saja intimidasi. Mata penulis terbuka total saat pimpinan utama pergerakan yang amat disakralkan dan dihormati ternyata berusaha menyogoknya dengan uang damai untuk melupakan atas semua insiden-insiden yang menimpanya.

Di akhir kisah, penulis menyatakan bahwa dalam proses penggulingan rezim orde baru, terlihat tidak ada satupun orang-orang pergerakannya dulu yang turut ambil andil. Ternyata mereka-mereka yang di luar pergerakan, yang telah dicap sesat, thagut dan kafir itulah yang mengubah nasib negaranya ini.

Pergerakan macam ini masih ada hingga sekarang di era reformasi walau mungkin dengan “bungkus” baru.

__

Secara jujur, saya kurang memiliki budaya membaca seperti sang penulis. Namun insiden-insiden “terrorisme” dan “Islamisasi” yang marak memaksakan saya untuk lebih mengerti kondisi medan tempur yang ada. Awalnya “Jihad Terlarang” ini menarik bagi saya atas asumsi seperti tulisan lainnya yang hendak menjelaskan apa itu makna jihad, seperti apa gerakannya, seperti apa sadisnya, dan seberapa mungkin saya jadi korbannya. Tetapi ternyata isi bukunya sangat lain dan di luar tebakan saya.

Dalam novelnya, Mataharitimoer (nama pena dari Eddy Prayitno) mengisahkan riwayat hidupnya secara gamblang sebagai salah satu gerilyawan dalam pergerakan bawah tanah Islam di jaman Orde Baru. Fokus dari penulis berupa apa yang dilihat, dirasakan dan dialami oleh seseorang yang sesungguhnya mendambakan suatu kebenaran, keadilan dan aksi atau sikap yang patut diambil untuk menciptakan dunia yang lebih baik. Tidak ada upaya penguraian modus operandi pergerakan, tidak ada pengaitan gerakannya dengan insiden-insiden terkenal, tidak ada nama-nama penting yang angker disebut-sebut. Sampai akhir buku pun saya masih tidak tahu nama gerakannya itu namanya apa, di mana dan oleh siapa saja.

Dengan gaya bahasa yang mudah dicerna tetapi tajam, penulis menggambarkan suatu gerakan bawah tanah yang terlihat manusiawi dan gamblang. Dipenuhi suka duka pelbagai aspek kehidupan sehari-hari. Mereka bukanlah orang-orang yang sekedar sadis, fanatik, yang membuat onar atau apalah yang sudah menjadi stereotipe media. Yang ada adalah rakyat kelas bawah yang terpojokkan, kelompok menengah yang rela berkorban, mahasiswa-mahasiswa yang kritis dan ustad-ustad muda yang revolusioner. Semua memegang satu ideologi dan pandangan sebagai kelompok yang ditindas, yang perlu memperjuangkan nilai kebenerannya. Ada rasa kebersamaan dan persahabatan yang dalam. Kadang nuansa ini disampaikan dalam medium puisi dan lirik oleh sang penulis, yang sangat memperkaya ekspresi narasinya.

Walau operasi pergerakan terasa sebagai pelengkap dan latar belakang cerita, namun sepak terjangnya tetap tersirat jelas. Contoh segi positif, pergerakan ini terlihat memiliki suatu sistem finansial yang cukup rapi sehingga dapat menciptakan beasiswa serta pemberian modal untuk anggota dalam mencari nafkah. Dalam segi negatif, penulis menggambarkan banyaknya kesulitan di dalam mengutarakan pendapat, menuntut akuntabilitas dari para pemimpin dalam segala hal terutama uang. Sepertinya jalur komunikasi adalah atas ke bawah dan bawahan harus menjalankan apapun bentuknya itu. Seperti pacaran yang dibatasi, dipunguti biaya dan dikontrol pemimpin, bahkan pernikahan pun tidak perlu disahkan negara atau direstui orangtua.

Penulis terlihat memiliki wawasan yang kaya dan dalam seperti saat menguraikan apa itu kebenaran dan di manakah Tuhan berperan. Mungkin juga dikarenakan budaya membacanya yang tinggi atas didikan dan dorongan orangtuanya. Yang menarik lagi adalah bagaimana penulis mampu mengutarakan dan mempertahankan prinsip tanpa ada rasa menguliahi atau menggurui pembaca. Contoh di bukunya diceritakan di mana dia berani mengunjungi perpustakaan yang sudah dicap haram tapi tetap saja didatangi dikarenakan bobot koleksinya yang memang sudah diakui.

Tentu saja mungkin akan lebih seru lagi kalau penulis bisa menguraikan kegiatan-kegiatan lain di dalam pegerakan yang lebih dari logistik atau sehari-hari. Ada sedikit disingung mengenai barisan Sariyah yang adalah lembaga militernya. Ada juga disinggung dengan tokoh-tokoh yang memiliki akses ke kelompok elit politik namun sayangnya memang mereka bukan bagian dari alur narasi utama. Terkadang saya juga mengalami kesulitan memahami beberapa istilah yang agak asing buat mereka yang bukan muslim. Seperti dzikir, syahiidaa, Assunnah, dsb. Sayangnya tidak banyak penjelasan terhadap istilah-istilah tersebut.

Di akhir kata, bagi saya buku ini bisa digunakan untuk kenalan dengan gerakan-gerakan Islam di Indonesia, terutama bagi yang masih awam dan amatir dalam hal ini. Dapat pula dijadikan cermin renungan bagi kita masing-masing dalam memperjuangkan apa itu kebenaran sejati di bumi pertiwi. Di mana di balik bom, bazooka, masalah ham, sara dan sejuta caci maki panji provokasi, toh ternyata kita semua masih manusia Indonesia juga.

crosspoint/xp-0811-article1.txt · Last modified: 2008/11/15 12:25 by css
Back to top
chimeric.de = chi`s home Creative Commons License Valid CSS Driven by DokuWiki do yourself a favour and use a real browser - get firefox!! Recent changes RSS feed Valid XHTML 1.0