Laporan dari Konferensi Temu Pembicara Mancanegara (TPM) XIII
Anna Saputera - Ketua TPM XIII
(Translated by: Jeson Martajaya)



Salam dalam nama Tuhan Yesus Kristus !


Atas nama panitia OMC-XIII, saya ingin memberikan sekilas laporan mengenai konferensi TPM-XIII.


Puji syukur kepada Tuhan kita yang telah membimbing keseluruhan konferensi yang diadakan pada tanggal 1-4 September 2006 di Chicago ini, IL. Meski terjadi keterlambatan dalam memperoleh visa, tiga pembicara kita: Stanley, Pdt Sopamena, dan Dr Maggay dapat hadir di konferensi ini tepat pada waktunya. Juga 77 orang peserta yang terdiri dari para mahasiswa dan profesional dari seluruh Amerika Serikat bisa tiba dengan selamat dan berpartisipasi di konferensi ini. Saya juga ingin berterima kasih kepada para anggota panitia TPM-XIII bagian acara dan logistik yang sudah bekerja dengan keras guna menjamin keberhasilan konferensi ini.


Di awal konferensi, dalam sesi Indonesian Update, Pdt Sopamena mengatakan bahwa sebelum ia berangkat ke konferensi TPM-XIII, orang-orang di kampung halamannya sedang merayakan Kemerdekaan Indonesia yang ke-61. Akan tetapi, sebuah pertanyaan terlintas dalam pikirannya. Apakah kita sungguh-sungguh bebas? Dia merasa bahwa kebebasan kadang tertutup, kadang terlalu jauh untuk digenggam seperti tidak eksis. Sebagai seorang individu dan warganegara Republik Indonesia, kebebasan dan hak untuk hidup hanya dipunyai oleh sekelompok elit tertentu. Selama pemerintahan rezim Soeharto, Indonesia telah melalui masa kediktatoran yang pahit dan menyakitkan, yang penuh akan korupsi, kolusi dan nepotisme. Tetapi paska era Soeharto, kondisi tidak menjadi lebih baik. Rakyat tetap miskin dan menjadi kambing hitam daripada agenda politik para elit. Pelanggaran HAM merajalela di berbagai daerah di Indonesia sampai ke detik ini. Pemerintah Indonesia tidak mempunyai komitmen yang nyata untuk melaksanakan reformasi. Republik Indonesia, mulai dari politik, ekonomi, sosial, hukum, sampai ke sudut pandang militer, sedang berjalan ke arah kehancuran. Singkatnya, urgensi fundamental Indonesia yang diformulasikan oleh para pembicara dan partisipan TPM-XIII adalah sebagai berikut: kurangnya partisipasi rakyat dalam nation-building, ketidakmampuan pemerintah dalam mengijinkan rakyat untuk berpartisipasi, KKN, kedaerahan dan kejahatan terorganisir, ketiadaan supremasi hukum, terorisme, dan lain sebagainya.


Lalu apa peran dari Gereja dan umat Kristiani dalam nation-building ini, terutama di tengah bangsa yang sedang berjalan ke arah kehancuran? Dr. Maggay berkata bahwa paling tidak ada tiga tugas dari umat Kristiani dan Gereja di masyarakat, seperti sebagai Nabi, sebagai Imam, dan sebagai Raja. Tugas sebagai Nabi adalah tugas dimana umat Kristiani dan Gereja dipanggil untuk menyuarakan kebenaran di ruang publik, untuk mencintai keadilan dan mengecam ketidakadilan yang terjadi di masyarakat, untuk “speak up for those who cannot speak for themselves” (Amsal 31:8-9) dan untuk mendukung pengembangan suatu pemerintahan yang menegakkan keadilan dan kemanusiaan. Dalam tugas sebagai Imam, umat Kristiani dan Gereja dipanggil untuk menjembatani penderitaan rakyat ke salib Kristus yang telah bangkit. Dalam tugas sebagai Raja, umat Kristen dan Gereja diminta untuk menjadi pelayan-pelayan yang setia atas mandat yang Tuhan berikan atas bumi ini. Akan tetapi, Gereja dan umat Kristiani Indonesia jaman sekarang tidak menjalankan panggilan dan tugas ini dengan setia. Kebanyakan dari mereka hanya berfokus pada isu dan perpolitikan internal gereja. Umat Kristen dan Gereja juga kurang mempunyai kemampuan untuk mengkomunikasikan dan menterjemahkan teologi mereka ke nilai-nilai kehidupan sehari-hari baik sebagai individu maupun sebagai warga negara Indonesia. Tantangan-tantangan ini harus mengarahkan umat Kristen dan Gereja kepada kebutuhan akan pereformasian kehidupan bergereja untuk menjadi semakin setia dalam menjalankan fungsinya di dunia: mendukung demokrasi dan HAM, memperkuat dan mengadvokasikan kesejahteraan komunitas lokal, dan mengusahakan rekonsiliasi sosial.


Di konferensi ini, panitia TPM-XIII memilih Masyarakat Sipil sebagai tema karena kami percaya bahwa Masyarakat Sipil itu adalah instrumen yang meskipun tidak sempurna namun dapat mengakomodir perbedaan, representasi, dan dapat memfasilitasi hidup berdampingan dan kerjasama. Selama presentasi dari Stanley dan Dr. Maggay, ada beragam definisi dari Masyarakat Sipil yang telah diformulasikan oleh para pakar. Meskipun berbeda-beda, namun ada satu karakter umum yang mewarnai setiap definisi tersebut. Cohen dan Arato mendifinisikan Masyarakat Sipil mempunyai sedikitnya empat karakter utama: otonomi, ruang publik yang bebas, wacana umum, dan kewarganegaraan. Sedangkan ahli lain, De Tocqueville, menambahkan bahwa peran Masyarakat Sipil harus memasukkan keberadaan inter-dependensi yang tinggi, sukarela, swadaya, dan swasembada dalam berhubungan dengan negara dan kehadiran supremasi hukum. Dr Maggay juga menyajikan perjalanan Masyarakat Sipil di Filipina dan usaha-usaha yang dijalankan oleh para politikus, kelompok kelas menengah, LSM religius beserta kekuatan dan kelemahan mereka.


Kembali ke tema TPM-XIII: “Peran Umat Intelektual Kristiani Dalam Pengembangan Masyarakat Sipil”, peran kita adalah untuk menyajikan dan menyebarluaskan tanda-tanda Kerajaan Allah di dunia, terutama di Indonesia. Oleh karena itu, umat Kristiani Indonesia harus menghargai kewarganegaraannya dan harus secara efektif mengambil peran sebagai warga negara yang mengilhami, memotivasi, dan berpartisipasi dalam pengembangan Masyarakat Sipil di daerah mereka masing-masing. Secara komposisi, Intelektual Kristen adalah minoritas di kelompok minoritas, oleh sebab itu Intelektual Kristen harus kreatif dalam membentuk kepercayaan mereka menjadi nilai-nilai yang mendukung good governance dan good society, terutama di negeri yang penuh krisis. Akhir kata, berikut adalah laporan keuangan singkat dari TPM-XIII. Saya hendak menyampaikan penghargaan yang teramat khusus pada para donatur kami, yang mana dengan keterbatasan budget mereka, masih percaya kepada visi dan misi daripada TPM-XIII ini. Saya yakin bahwa dukungan finansial mereka tidak akan hilang dengan sia-sia.


Pendaftaran + Fundraising (76 partisipan + 1 beasiswa) $ 14,250.00
CSS General Fund $ 1,229.54
Total Pemasukan $ 15,479.54
Total Konsumsi $ 1,925.00
Total Penginapan $ 6,172.65
Total Dokumentasi/Handbook $ 392.58
Total Transpor Pembicara Internasional and Domestik $ 5,927.00
Total Hadiah Pembicara $ 900.00
Pengeluaran lain-lain $ 162.31
Total Pengeluaran $ 15,479.54


Harapan saya adalah bahwa semangat TPM-XIII akan terus membara, dan semoga konferensi TPM-XIII ini menjadi langkah awal bagi yang datang untuk pertama kalinya, dan menjadi tempat untuk menggodok, membagikan dan mengasah bagi yang lainnya. Perjalanan kita adalah perjalanan yang panjang dan mahal, perjalanan yang menuntut jiwa dan hidup kita. Tetapi yakinlah bahwa ini adalah pertempuran yang sangat layak untuk diperjuangkan.

crosspoint/xp-0610-report-indonesian.txt · Last modified: 2007/01/03 10:27 by css
Back to top
chimeric.de = chi`s home Creative Commons License Valid CSS Driven by DokuWiki do yourself a favour and use a real browser - get firefox!! Recent changes RSS feed Valid XHTML 1.0