Memiliki Permasalahan Negeri Kita
Tommy Tjiptadjaja
(Translated by: Jeson Martajaya)



Indonesia adalah tempat yang sangat aneh. Meski hampir setiap orang menyetujui bahwa kondisi negara ini tidak terlalu baik, masing-masing mempunyai pendapat yang berbeda mengenai urgensi, prioritas, dan tindak lanjutnya. Jelas bahwa tanpa adanya suatu konsensus terhadap apa yang sebenarnya menjadi masalah dan prioritas, tidak akan ada usaha yang substansial dan efektif. Artikel ini hendak mencerminkan fakta mengenai situasi Indonesia dari sudut pandang lain, sehingga kita bisa lebih mengerti akan urgensi permasalahannya dan bisa bertanya apa yang seharusnya menjadi peran kita. Kita tidak akan pernah dapat menjadi warga negara dan umat Nasrani Indonesia yang efektif kalau kita tidak merasa memiliki permasalahan nyata yang kian dihadapi Indonesia.


Gambaran pertama tentang Indonesia datang dari artikel Reuters yang memperingatkan bahwa tingginya tingkat kemiskinan dan laju pengangguran di Indonesia telah menciptakan tingkat kefrustrasian dan keputusasaan yang sangat tinggi. Hal ini membuat rakyat Indonesia mulai menerima gagasan dan solusi yang tadinya pernah ditolak. Jeffrey Winters, seorang pakar ahli Indonesia, malah lebih jauh mengatakan “Indonesia mempunyai populasi yang sedang sengsara dan frustrasi, ditambah dengan gerakan-gerakan extrimis yang berkeinginan untuk mengorganisir kefrustrasian tersebut menjadi sebuah kekuatan yang dapat secara fundamental mengubah bentuk negara ini dari bentuk awal sejak kemerdekaannya.” Pada kasus Iran dan Afghanistan, sejarah menunjukkan bahwa untuk mengganti haluan suatu negara bukanlah mayoritas yang diperlukan, melainkan ideologi, usaha-usaha yang terorganisir, kader-kader, dan status quo yang lemah; yang mana semua sudah cukup ada di Indonesia. Kita mungkin perlu mengindahkan peringatan ini mengingat kredibilitas mereka sebagai para analis handal yang berdasar pada hasil penelitian dan survey yang ekstensif dengan didukung oleh fakta-fakta yang solid.


Dapat diprediksi, statistik konsisten dengan gambaran diatas, mengingat bahwa kita sedang berada diambang kebangkrutan dengan hutang publik 49.9% GDP. Stabilitas sosial berada di situasi yang rapuh seiring laju pengangguran naik dari 8.1% di tahun 2001 menjadi 10.3% di tahun 2005 (ini mungkin angka konservatif mengingat buku Fakta Dunia CIA menunjukkan angka 11.8%). 16.7% penduduk Indonesia juga hidup di bawah garis kemiskinan. Jangan berharap situasi ini membaik dalam waktu singkat, mengingat indikator sektor bisnis sebagai pemicu perkembangan ekonomi juga terlihat buruk: • Transparency International’s Corruption Perception Index (CPI) di tahun 2005 menaruh Indonesia pada peringkat 137 dari 159 negara, di grup yang sama dengan Etiopia, Liberia, dan bahkan negara yang sedang porak poranda, Irak. • Indikator IFC’s Ease of Doing Business 2005 menempatkan Indonesia di peringkat 135 dari 175 negara, jauh di bawah negara tetangga ASEAN lainnya (Singapura = 1, Thailand = 18, Malaysia = 25, Filipina = 126, bahkan Vietnam = 104!). • Index Pengembangan Manusia PBB di tahun 2005 sebagai rujukan atas kualitas kehidupan manusia (literasi, pendidikan, dll) lagi-lagi menempatkan Indonesia di peringkat 110 dari 177 negara (Singapura =, Thailand = 73, Malaysia = 61, Filipina = 84).


Gambaran kedua tentang realita Indonesia datang dari pengalaman pribadi dan anekdot kualitatif saya sendiri dari bekerja sama, mengamati, dan berbincang-bincang dengan orang-orang di Jakarta. Saya berkesimpulan bahwa meski kebanyakan orang cenderung setuju bahwa Indonesia sedang “economically challenged”, sedikit yang mengerti dalamnya permasalahan dan implikasinya ke stabilitas sospol dan agama, dan bahkan ke landasan eksistensi Indonesia itu sendiri. Hal ini ditambah dengan fakta bahwa Jakarta merupakan “kasus unik, tempat nyata namun maya, dan gambaran yang mewakili Indonesia.”. Jika anda berbicara dengan orang kelas menengah Jakarta, mereka tidak tahu atau tidak peduli tentang hal-hal diluar Jakarta. Dengan gaya hidup Jakarta, mereka cukup jauh dan asing dari persoalan seperti kemiskinan, radikalisasi, pengangguran, pendidikan rendah, dan lain sebagainya. Malah kadang-kadang saya dengar orang menggampangkan masalah atau menyangkalinya dengan kata-kata “Akan segera lebih baik kok”, “Tidak sejelek yang kamu pikir”, “Jangan berfokus kepada hal yang negatif tentang Indonesia, tetapi yang positif saja.”, “Life will go on.”, dan lain sebagainya.


Gambaran/persepsi kedua terhadap Indonesia ini tidaklah mengejutkan mengingat Jakarta adalah kota yang teramat sibuk dengan 43 pusat perbelanjaan besarnya, termasuk yang terbaru: Senayan City (saya yakin jumlahnya akan segera bertambah). Mal-mal besar ini hanya dapat bertahan melalui permintaan konsumen golongan menengah-keatas yang sebagian besar berdomisili di Jakarta dan kota besar lainnya. Melihat Jakarta dan shopping malnya, restorannya, dan bioskopnya, kadang-kadang saya bertanya-tanya apakah Indonesia sedang dalam krisis. Jakarta sungguh didesain untuk menjadi “surga, tempat berlindung” bagi golongan menengah-keatas (opini Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam wawancara Kompas); tempat di mana mereka bisa bekerja keras untuk mendapat nafkah lebih besar, supaya mereka bisa belanja lebih banyak, dan di tengah-tengah itu semua lupa akan masalah nasional yang lebih besar. Hal ini adalah gaya hidup yang melumpuhkan bagi orang kelas menengah, kelas orang-orang yang secara historis memiliki potensi sebagai pembawa perubahan karena relative independensi mereka dan tingginya tingkat pendidikan/ketrampilan mereka. Tak seorang pun dapat menyangkal jurang yang sangat besar antara Jakarta dan bagian Indonesia lainnya. Seseorang hanya perlu untuk berjalan kaki sedikit keluar kota Jakarta untuk melihat ketimpangan negari ini (kurangnya air bersih, listrik, barang bermutu, dll.). Mungkin orang Jakarta dengan simpelnya tidak peduli sampai masalah itu mulai menjalar pelan-pelan masuk ke dalam kota melalui kejahatan, pengemis kotor, pengangguran, terorisme, kekerasan agama, dll. Saya terutama merujuk pada persepsi kelas menengah di Jakarta mengingat mereka adalah orang-orang yang secara umum saya temui dan berada di tengah-tengahnya. Pengamatan lebih lanjut perlu dilakukan terhadap kota-kota besar lainnya, meski saya tebak bahwa gambarannya akan cukup mirip, hanya lebih kurang kentara mengingat sejauh ini Jakarta adalah kota yang paling maju.


Apa yang kita lihat sekarang adalah adanya jurang persepsi nyata di antara gambaran Indonesia yang pertama dan yang kedua, dan jurang tersebut disebabkan oleh fakta bahwa kebanyakan kelas menengah tidak diperlengkapi untuk melihat Indonesia melalui lensa yang holistik (mengerti juga elemen sosial budaya dan politik, tidak hanya melalui lensa ekonomi). Teramat khusus bagi untuk golongan menengah keatas di Jakarta, kota yang secara nyaman didesain bagi mereka, memisahkan mereka dari kenyataan. Mereka juga terlalu sibuk berjuang dalam laju yang cepat dan tekanan kota besar. Jakarta sungguh “diatas sana” sedangkan sisa Indonesia lainnya ialah “dibawah sini”. Ini adalah persoalan yang kita hadapi sebagai orang Kristen Indonesia.


Sesungguhnya kita mempunyai teladan dari Yesus Kristus tentang bagaimana untuk menjalani hidup seperti Dia: 1. Dia mengakui masalah umatNya dan masalah kemanusiaan secara keseluruhan (yang menolak Tuhan dan berputus asa sebagaimana mereka hidup dalam dosa terpisah dari Tuhan). 2. Dia mengambil kepemilikan masalah dalam mematuhi BapaNya. 3. Dia meninggalkan takhtanya yang nyaman, aman, dan serba berkecukupan di surga, untuk turun ke tengah-tengah permasalahan di bumi. 4. Dia hidup di tengah-tengah permasalahan, memenuhi misi hidupNya untuk mati.


Teladan paralel ini sungguh di hadapan kita sekarang: 1. Apakah kita mengakui permasalahan rakyat kita, bangsa kita; masalah ketidakadilan, ketidaksamaan kesempatan bagi semua orang, ketegangan/kekerasan agama dan ras, ketiadaan modal dan kepercayaan sosial, kemiskinan, pendidikan yang buruk, kesehatan, dan akses ekonomi? 2. Apakah kita menerima kepemilikan tersebut, atau kita hanya menerima kepemilikan “masalah-masalah kelas menengah” saja, seperti kesempatan pekerjaan yang lebih baik, mobil yang lebih baik, rumah yang lebih baik, restoran yang lebih baik, pakaian yang lebih baik, hiburan yang lebih baik, dan lain sebagainya.? 3. Apakah kita siap menuju panggilan Tuhan dari “atas sana” ke “bawah sini”, yang memerlukan kehadiran Kristus melalui kita, atau kita lebih suka untuk berada di “atas sana” dan hanya mengirimkan barang-barang saja ke “bawah sini”? 4. Apakah kita siap untuk memenuhi panggilanNya di hidup kita di Indonesia di dalam waktu yang spesifik ini?


Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa setiap orang perlu untuk pergi ke daerah pedesaan Indonesia, meski saya percaya bahwa ada banyak kesempatan bagi orang Kristen Indonesia untuk benar-benar membawa dampak di luar kota besar, khususnya pada era otonomi daerah ini dimana masing-masing daerah berusaha untuk menarik berbagai macam tenaga trampil untuk mengembangkan daerahnya. Saya juga tidak bermaksud mengatakan bahwa kita semua harus mati, tetapi beberapa dari kita mungkin perlu jika Tuhan berkehendak (menjadi seorang martir adalah hak yang paling istimewa bagi orang Kristen, untuk benar-benar menghidupi hidup Kristus). Tetapi, saya bermaksud mengatakan bahwa Tuhan mempunyai tujuan bagi kita dalam hidup di tengah-tengah masalah Indonesia; bagi kita untuk mengadopsi masalah itu sebagai milik kita dan menjadi Garam dan Terang.


Setelah kita mengadopsi permasalahan negara kita, benar-benar berdoa dan bertobat seperti yang Nehemiah lakukan, Tuhan akan mulai merubah pandangan kita dalam melihat pekerjaan kita, kesempatan di hadapan kita, dan bagaimana kita memperlakukan orang lain. Dia akan membangkitkan imajinasi kita. Misalnya: Para wiraswasta mencurahkan tenaga mereka ke produk/servis yang baru, yang bisa menolong mengurangi kemiskinan dan tingkat pendidikan dan kesehatan yang rendah, daripada hanya berfokus pada satu faktor dimensi saja, yakni keuntungan. Pemilik perusahaan berpikir tentang bagaimana dia bisa meningkatkan transparansi dalam praktek bisnisnya melalui berbagai macam asosiasi bidangnya serta bagaimana mereka bisa memperlakukan pegawai dan konsumer mereka dengan kepercayaan dan tanpa diskriminasi. Berkurangnya akhir pekan yang terlewati dengan makan di luar, berbelanja dan menonton film, dan bertambahnya akhir pekan yang membangun persahabatan, tukar-menukar gagasan dengan orang berlainan agama dan kepercayaan untuk memperkuat pengertian bersama dan modal sosial. Gereja membangun relasi yang nyata dengan orang beragama lain, menanggulangi permasalahan bersama seperti kemiskinan, ketidakadilan, kekerasan agama, pendidikan rendah dan akses kesehatan, dll. Orang-orang menjadi sejahtera dengan apa mereka punyai dan berusaha untuk memajukan kelompok yang lebih besar daripada sekedar lingkar keluarga mereka saja. Orang-orang menjadi lebih aktif dalam kelurahan mereka, RT, RW, dll, sebagai manifestasi dari kewarganegaraannya. Dan bagi yang benar-benar merasa dipanggil, mereka bisa pergi di luar kota dan mulai membangun the “real” Indonesia.


Seperti yang anda bisa lihat, konsekuensi dari iman sejati kita di dalam Kristus mengharuskan kita untuk bertobat dan melihat dunia yang kita hidupi ini secara berbeda; untuk menjadi lebih peka dan bisa beridentitas dengan masalah nyata Indonesia seperti kemiskinan, pendidikan, kesehatan, ketidakadilan, korupsi; untuk menyusun hidup kita secara berbeda: bagaimana kita hidup, bagaimana kita bekerja, bagaimana kita mengisi waktu kita, bagaimana kita berteman, bagaimana kita berelasi, dan bagaimana kita membelanjakan uang kita. Anda juga bisa melihat dengan jujur bahwa tidak ada “jalan tengah” di lingkungan seperti Indonesia; mustahil untuk hidup secara terpisah dan “netral” (itu juga tidak seperti yang Tuhan kita mau). Pilihan yang ada hanya anda menjadi Garam dan Terang atau anda menjadi serupa dengan lingkungan.


Bayangkan jika kita semua pada akhirnya mengambil kepemilikan terhadap permasalahan Indonesia sebelum terlambat. Bayangkan jika kita memperlakukan masalah itu sebagai masalah kita sendiri dan merubah gaya hidup dan prioritas kita sesuai dengannya. Saya percaya tidak akan terlalu terlambat bagi Indonesia dan 220 juta orangnya. Ambisius? Mungkin. Tetapi, rencana Tuhan selalu untuk melakukan sesuatu yang mustahil lewat umatNya. Anda dan saya.


Tommy Tjiptadjaja sekarang ini sedang mengejar MBA di bidang Strategic Management, Marketing, and Economics di University of Chicago Graduate School of Business.

crosspoint/xp-0610-article3-indonesian.txt · Last modified: 2006/12/28 13:19 by css
Back to top
chimeric.de = chi`s home Creative Commons License Valid CSS Driven by DokuWiki do yourself a favour and use a real browser - get firefox!! Recent changes RSS feed Valid XHTML 1.0