Mari Berbicara Tentang Seni
Keny Widjaja
(Translated by: Jeson Martajaya)
Berkenaan dengan Indonesia yang miskin, yang dibingungkan oleh korupsi, yang politiknya tidak stabil, dan yang SARAnya tegang terus….
Berbicara mengenai Seni? Sekarang?
Supaya adil, ada banyak masalah Indonesia lain yang siap untuk diikutsertakan dalam daftar diatas: (dan lebih banyak lagi yang sengaja dihindari oleh penulis)
• Penurunan kilat daya saing ekonomi kita secara global.
• Manajemen dan bisnis pengolahan sumber daya alam kita yang payah.
• Noda-noda perselingkuhan, seks bebas, dan budaya gosip yang tersebar luas.
• Bahwa Keadilan hampir hanya berupa dongengan belaka, karena terkunci mati oleh Uang dan Korupsi
• Bahwa Iman kita masih berupa agama “bule atau kalangan atas” bagi masyarkat umum
Dalam artikel ini, saya mengusulkan untuk menambah satu tantangan lagi ke daftar tersebut:
• Sebuah peperangan sedang terjadi di alam Seni Indonesia, tetapi banyak dari kita yang entah tidak sadar akan hal itu, atau tidak yakin bahwa kita sanggup untuk melawannya sekarang.
Seni? Perang? Apaan Coba!?
Agar ringkas, saya menggunakan definisi kasar berikut untuk Seni: “Sebuah ekspresi estetika dari si pencipta 1) yang memancarkan perasaan, gagasan, dan ‘worldview’ (cara memandang dunia) empunya si pencipta kepada si penonton”
Apa saja yang termasuk dalam alam Seni ini dimulai dari kuapan, tawa, dan tangisan refleks, yangmana sangat sederhana namun seringkali menular. Lalu kita loncat ke karya seni halus, seperti Monalisa karya DaVinci, musik2 piano dari Jaya Suprana, dan lukisan yang mengganggu-nan-menarik yang anda terakhir lihat di museum. Di antara dua ujung ini terletak seni pop atau seni umum, seperti sinetron dan komik, dan arsitektur dan musik pop. Tidak ada satupun dari kita yang tidak menkonsumsi atau tidak menciptakan Seni, karena Seni adalah bagian kemanusiaan kita; Anda berdandan di pagi hari, meninabobokan anak anda pada malam hari. Anda menikmati keheningan malam dan menyanyikan lagu pujian menyembah Tuhan.
Karya Seni beragam dalam pesannya, dalam fungsi dan penggunaannya, dalam kualitas estetika dan orisinilitasnya, dan dalam jangkauan pengaruhnya 2). Namun, pada dasarnya Seni memberikan makanan kepada imajinasi manusia 3), dan imajinasi adalah apa yang “memampukan kita untuk melihat apa yang kita cita-citakan, atau kemana yang kita ingin pergi, tanpa harus pergi kesana” 4) Seni yang Indah dengan pesan Kebenaran memelihara imajinasi untuk 'mengingat' kebaikan Surga (dimana Sumber Kebaikan dan Kebenaran berdiam) yang memanggil seluruh umat manusia untuk mencariNya.
Namun, kita harus mengerti bahwa seiring dengan kejatuhan manusia ke dalam dosa, imajinasinya pun telah jatuh juga. Dalam kejatuhannya, imajinasi menjadi sangat rentan terhadap karya Seninya si Bohong. Kita juga harus ingat bahwa musuh kita si Iblis sangat ingin untuk membutakan dunia ini dari Cahaya Injil Kristus 5), dan dia dengan lihainya mampu untuk menggunakan Seni untuk tujuan ini. Seni yang indah namun membawa kebohongan ini sangat mematikan, baik untuk imajinasi kita, dan apalagi untuk jiwa kita. Imajinasi yang telah jatuh bukan hanya rentan terhadap Seni yang buruk ('buruk' dalam pesan dan/atau kualitas), namun juga sangat mampu untuk memproduksi Seni yang korup.
Dimana ada dilema, disitu pula ada Panggilan kita.
Seiring dengan kita menyelami persoalan dan tantangan di alam Seni, saya ingin berfokus kepada fungsi Seni yang satu ini: bahwa melalui Seni seseorang memperkuat dan memberikan energi kepada nilai-nilai dan ‘worldview’yang dipegangnya, bahwa melalui Seni seseorang memancarkan ‘worldview’ tersebut, dan berpotensi untuk mengubah atau 'memberikan makanan' kepada ‘worldview’ orang lain. Lebih dari itu, ‘worldview’ yang dipancarkan melalui Seni seringkali menyebar dan mempengaruhi secara lebih efektif ketimbang melalui debat atau artikel yang argumentatif. Ini karena Seni bekerja di alam bawah sadar melalui baik panca indra maupun rasio kita.
Di tingkat sosial, kegagalan kita dalam mengenali hal ini berarti bahwa kita kehilangan kesempatan untuk memelihara imajinasi masyarakat kita. Dan tentunya, hal ini berarti bahwa nilai-nilai dan worldview yang keliru akan mengisi kekosongan yang kita tidak isi. Francis Schaeffer dalam serial bukunya “A Christian View of Philosophy and Culture 6)” melihat bahwa ide dan worldview yang membentuk dunia barat 'mengalir' dari para filsuf ke artis, dan kemudian ke artis pop, dan kemudian meresap ke kebudayaan dan tradisi umum. Beliau menyesali cekikan Relativisme di alam pikiran Barat, dan yakin bahwa pergeseran ini terjadi ketika Gereja mulai meninggalkan dan mengabaikan alam Seni paska periode Reformasi/Renaisans. Sekelompok artis yang Schaeffer sebut destruktif dalam mengisi kekosongan tersebut adalah the Beatles. Melalui karya musik mereka yang hebat dan popularitas mereka, kita bisa dengan mudah menemukan pesan dan semangat Relativisme yang dikumandangkan oleh para artis kontemporer di jaman kita.
Saya percaya bahwa dalam sekejap pandang melihat Indonesia, kita dapat melihat manifestasi lain daripada ancaman tersebut. Sekarang ini, terlihat ada dua kekuatan yang berlawanan sedang bertempur bagi Seni dan Imajinasi Indonesia. Yang satu adalah Escapist Camp, yang memproduksi karya seni dengan menyediakan racun 'kenyataan-alternatif' bagi Imajinasi masyarakat kita, para 'escapades' dari kebosanan dan kesengsaraan kehidupan sehari-hari. Mereka menawarkan materialisme, amoralitas seksual, gosip, mistik, dan hal-hal yang abnormal. Di lain pihak, ada Islam fundamentalis yang xenophobia (takut akan orang asing). Sama seperti Inkuisisi Gereja, Nazi Jerman, dan pre-kapitalis Komunis Cina, mereka memaksa orang untuk menolak sebagian besar Seni, dan hanya mengijinkan sebagian kecil yang mendukung nilai-nilai keyakinan mereka 7). Dengan membatasi imajinasi, mereka memutuskan hubungan antara manusia dengan dunia dan manusia lain, dan mempermudah mereka untuk mengajar seseorang untuk membenci dunia dan manusia lain.
Yang satu membius dan meracuni Imajinasi, yang lain membabat, menggebuk, dan menjegalnya. Mereka adalah dua angin yang berlawanan namun bersama-sama membentuk satu topan penghancur. Sayangnya di alam publik Gereja masih cenderung untuk meremehkan pentingnya Seni, sehingga kita kurang bersatu dan kurang usaha dalam menjawab tantangan ini. Dari sebab yang sama, para artis Kristiani yang memproduksi karya seni di luar Gereja (sekuler) jarang didukung oleh Gereja. Malah mereka sering dicap sebagai 'Kristen dunia' yang menyalahgunakan talenta yang Tuhan telah berikan. Hal ini sangat disayangkan, sebab mereka adalah anggota Tubuh kita yang paling berpotensi dalam menjembatani jurang Seni di dunia ini.
Seni dan Gereja
Ada 3 alasan mengapa Gereja gagal dalam melihat urgensi daripada Seni. Pertama adalah pemikiran bahwa Alkitab sangat sedikit berbicara tentang Seni. Kita harus memeriksa ulang pemikiran ini dengan informasi berikut: (1) Alkitab, selain menjadi buku sejarah dan buku teologi, juga penuh dengan puisi, lagu, cerita ajaib dan gambaran supernatural. Karena kesenian Alkitab inilah, kita tidak dapat membacanya secara penuh tanpa Imajinasi kita. (2) Di Perjanjian Lama, kita melihat Tuhan kita dengan teliti menciptakan alam dan mengisinya dengan keindahan 8), dan kita melihat Dia menaruh perhatian pada kreatifitas manusia 9). Dia bahkan juga mendesain bait AllahNya sendiri bersama dengan Bezalel 10). (3) Tuhan kita Yesus Kristus sendiri adalah seorang pencerita ulung dan banyak menggunakan metafora 11). Ini hanya segelintir dari sekian banyak referensi daripada Seni yang dapat ditemukan di Alkitab, dan topik mengenai Seni dan Alkitab ini sangat layak untuk didiskusikan secara terfokus.
Yang kedua berhubungan dengan tendensi kita untuk terpaku akan fungsi dan ke-produktifitas-an sesuatu hal; “Apa gunanya? Bagaimana kita menggunakannya untuk memajukan Kerajaan Tuhan? Apakah ini efektif? ” Saya berharap setengah dari artikel ini telah cukup membahas hal ini. Seni memiliki fungsi penting dalam memelihara imajinasi manusia dan masyarakatnya. Namun saya juga ingin kita membayangkan waktu ketika Yesus menegur rasul-rasulnya ketika mereka menilai perbuatan si wanita pendosa di rumah Simon sebagai suatu pemborosan 12), dan melihat lebih dalam kejadian tersebut. Seni seringkali hanya untuk kenikmatan si pencipta dan si penontonnya. Mengapa Tuhan menciptakan bintang dan pelangi? Mengapakah Dia menaruh lesung pipit di wajah anak-anak? 13)
Alasan ketiga sebagian besar dikarenakan dua alasan diatas. Dalam sejarah, Gereja pernah memilah-milih bagian Seni yang aman saja 14) dan yang dapat dengan memudah membawa pesan Injil, dengan melabel mereka “Seni Kristiani”. Untuk bagian lainnya, Gereja mengabaikannya dan bahkan menolaknya. Tidak heran kalau kita sekarang menemukan beberapa faksi utama dari dunia Seni memusuhi Gereja, bahkan yang lebih menggelisahkan lagi, kita sebagai Gereja malah semakin mudah untuk menolak dan membenci bagian manusia ini yang Tuhan minta untuk kita cintai dan layani.
Panggilan Bagi Para Artis
Sebagai penutup, sebuah pesan bagi saudara/saudari seiman yang Tuhan titipkan bakat, talenta, dan kesempatan khusus di bidang Seni, dan lebih penting lagi kepekaan dan kecintaan akan Seni, para Artis diantara kita.
Kita harus melayani Gereja dengan menghubungkan dia kembali dengan dunia Seni. Bangun jembatan yang menyeberangi jurang yang telah terbentuk dari ketidakpercayaan dan kelalaian yang menahun. Bantu Gereja untuk mengerti bahwa Seni Kristiani yang sejati adalah keseluruhan alam Seni yang telah ditebus untuk maksud Tuhan mula-mula. Fakta bahwa manusia mempunyai imajinasi dan ia mengkonsumsi dan menciptakan seni adalah fakta yang membuat manusia adalah … seorang manusia. 16) Fakta bahwa “Tuhan membuat manusia secara utuh, lalu di dalam Kristus manusia ditebus secara utuh, dan Kristus berkuasa atas keseluruhan alam semesta dan keseluruhan manusia” 17) berarti bahwa: ketika Yesus memanggil kita untuk mencintai tetangga kita, dan membuat semua bangsa sebagai muridNya, Dia juga memanggil kita untuk mencintai Seni dan Imajinasi manusia, dan memanggil kita untuk menebus bagian manusia tersebut. Oleh karena itu, ketika kita sebagai Gereja melihat dunia ini dengan jeli, dan kemudian melihat Indonesia, semoga kiranya kita bisa melihat bahwa ancaman kepada (dan melalui) Seni dan Imajinasi sebagai sama nyatanya dan sama mematikannya dibandingkan dengan ancaman di bidang lain.
Namun mohon sabar dan rendah hati, siaplah selalu untuk memaafkan dan minta maaf. Bersukacitalah ketika mengambil peran belakang panggung dalam menolong anggota Tubuh yang lain. Adalah alami bagi Seni untuk melayani di Politik, Ekonomi, Ilmu Pengetahuan, dan lan sebagainya. Selalu siap bila waktunya tiba untuk Seni kembali menjadi sorotan.
Peperangan telah dimulai. Komandan kita telah bertempur dan memimpin 18). Ladang pertempuran para artis seringkali berbeda dari ladangnya bisnismen, politikus, pendidik, orang tua, dan vokasi lainnya. Namun senjata kita tetap sama: Firman Tuhan. Baju zirah kita tetap sama: kebenaran, kebajikan, kedamaian, iman, dan keselamatan kita. Dan lagu perang kita tetap sama: kerendahan hati, kasih, dan pengorbanan.
Jangan kita menunggu atau segan untuk bergabung denganNya.
Keny Widjaja memperoleh gelar sarjananya dari University of Texas at Austin. Beliau sekarang berprofesi sebagai Software Engineer di Austin, Texas
1) Having to do with human response to beauty perceived by his sensory
2) For example successful propaganda-artworks would be very widespread, infectious, their purposes clear: to change people’s world-view or values. Whereas a man who whistles while doing yard-work, whistles simply because it relaxes himself only and helps him enjoy the beauty of simple manual labor.
3) Imagination overlaps with Reason and Feeling, it domiciles the part of man that projects onto reality his creativity and also a view of the world that man thinks as true, or hopes (or fear) to be true.
4) David Taylor, pastor of Art at the Hope Chapel of Austin, TX
5) 1 John 5:19, John 12:31, 2 Corinthians 4:4
6) Francis Schaeffer’s: “The God Who Is There”, “Escape From Reason”, “He Is There and He Is Not Silent” and “Back to Freedom and Dignity”
7) A similar situation in Malaysia: WSJ.com - Bit of Malay Culture Is Now Vanishing Under Muslim Rules
8) We can see God’s care and pride towards His creation in Genesis 1-2 when we also read Job 38-41
9) God was curious of what names Adam would give to His animals, in Genesis 2:19.
10) Exodus 31:1-11 and 35:30-36:7
11) Jesus told 23 stories and used 39 metaphors in the Bible.
12) Matthew 26:6-11
13) It may help us to know that when God claimed His creation to be ‘very good’ in Genesis 1:31, the Hebrew word for ‘good’ used (tov) are used in ‘good functionally’, as well as ‘good aesthetically’. This implies that beauty (aesthetical goodness) is part of His plan for Creation, and that God finds value in beauty.
14) The ‘feeling’ of safety coming from familiarity and controllability.
15) Such as: Fine-arts coming from the University, as well as Art industries like Hollywood and its Asian counterpart.
16) Kazuo Ishiguro’s novel, “Never Let Me Go”, makes use of this theme wonderfully.
17) Francis Schaeffer in “Art and the Bible”, Calvin Seerveld in “Bearing Fresh Olive Leaves”
18) Because wherever He calls us to, He is already there.
Back to top